Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Mengintip Peluang Implementasi Sugar Tax

Oleh Nova Enggar Fajarianto, Mahasiswa Tugas Belajar PKN STAN

Makanan adalah sesuatu yang pokok dan dibutuhkan oleh tubuh. Namun, apabila berlebihan akan menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Hal ini menjadi persoalan di zaman mileneal seperti sekarang. Di mana banyak orang yang tidak mengatur pola makannya dengan baik. Sehingga timbullah kegemukan yang sering kita sebut sebagai obesitas.

Obesitas adalah suatu penyakit serius yang dapat mengakibatkan masalah emosional dan sosial. Seorang dikatakan overweight bila berat badannya 10% sampai dengan 20% berat badan normal, sedangkan seseorang disebut obesitas apabila kelebihan berat badan mencapai lebih 20% dari berat normal. Obesitas saat ini menjadi permasalahan dunia bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan sebagai epidemic global.

Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi obesitas meningkat sejak tiga periode Riskesdas yaitu pada 2007 10,5 persen, 2013 14,8 persen, dan 2018 21,8 persen. Jumlah tersebut diambil dari hasil survei pada 300 ribu sampel rumah tangga di seluruh Indonesia yang dilakukan dalam Riskesdas. Indikator obesitas pada dewasa yaitu pada orang dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 27,0.  Di mana IMT normal berada pada angka 18,5 sampai 22,9.

Salah satu penyebab terjadinya obesitas adalah makanan/minuman yang mengandung gula terlalu banyak dan fast food. Di era sekarang banyak remaja yang secara tidak langsung mengkonsumsi makanan mengandung gula. Entah tidak tahu atau memang masa bodoh, remaja saat ini sering kali memiliki gaya hidup yang tidak sehat. Kita bisa lihat teman kita di instagram atau media sosial lainnya yang sering mengupload foto makanan mengandung gula. Tidak dapat dipastikan maksud remaja masa kini tersebut apakah hanya sekedar pamer menunjukkan kelas mewahnya atau yang lainnya. Namun yang jelas gaya hidup makan tidak sehat khususnya yang mengandung gula berlebih telah menjangkit di kehidupan remaja Indonesia.

 

Dampak Obesitas

Obesitas merupakan sarangnya penyakit, sehingga memiliki beberapa dampak negatif yang dapat mengancam kesehatan kita. Menurut informasi yang diperoleh dariguesehat.com beberapa dampak negatif tersebut adalah kanker terutama kanker payudara, kanker usus besar, kanker endometrium, kanker esofagus, kanker empedu, kanker ginjal, kanker pankreas, dan kanker tiroid. Lemak memproduksi estrogen kadar tinggi, hal tersebut dapat meningkatkan risiko kanker, serta menstimulasi perkembangan sel-sel kanker. Di samping itu kita akan mudah terkena tekanan darah tinggi.

Jaringan lemak yang berlebih akan menekan dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan sirkulasi darah tidak lancar. Dampak terburuknya bisa terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Dampak obesits bisa berupa dampak jangka pendek dan jangka panjang. Selain menyebabkan penyakit jasmani, obesitas tersebut juga dapat menimbulkan gangguan psikis. Orang yang terkena obesitas akan merasa minder dan rendah diri. Apalagi bila terjadi pada anak-anak yang dibully karena kegemukannya. Tentu saja hal tersebut menimbulkan depresi yang mendalam.

 

Kebijakan yang dapat dilakukan

Mengingat bahaya yang diakibatkan obesitas, tentu kita prihatin dengan kondisi tersebut. Sesama manusia kita dapat mengingatkan keluarga, saudara, atau teman-teman akan bahayanya obesitas. Terutama keluarga, kita memiliki porsi tanggungjawab untuk menjaga kesehatan bersama-sama. Mengajak olahraga dan mengatur pola makan sudah barang tentu menjadi kewajiban kita.

Namun demikian, mengingatkan kepada setiap orang untuk menjaga kesehatan, dirasa masih belum mampu memberikan efek secara maksimal. Dibutuhkan kebijakan pemerintah yang strategis, seperti yang dilakukan beberapa negara maju di dunia. Menurut berita DDTC News tanggal 29 Februari 2019, beberapa negara maju yang telah memberlakukan sugar tax adalah Hungaria yang mulai menerapkan sugar tax pada September 2011.

Kebijakan di Hungaria memberikan dampak positif. Sebesar 22 % penduduk Hungaria telah mengurangi konsumsi minuman energi dan 19% penduduk mengurangi minuman ringan yang mengandung gula. Kemudian diikuti oleh Perancis yang memperkenalkan sugar tax pada tahun 2012 terhadap minuman ringan yang mengandung gula. Disusul oleh Meksiko yang mengenakan sugar tax sebesar 10 % terhadap minuman mengandung gula dan berhasil menurunkan jumlah konsumsinya hingga mencapai 6%.

Kita bisa meneladani beberapa negara maju di dunia temasuk Inggris yang telah menerapkan Sugar TaxSugar Tax adalah penerapan tarif pajak bagi produk makanan dan minuman yang mengandung gula berlebih atau sejenisnya yang menimbulkan efek negative bagi kesehatan. Inggris ataupun negara lainnya menilai sangat pantas untuk memberlakukan sugar tax guna meningkatkan kesehatan masyarakatnya.

Sugar Tax diberlakukan bagi makanan dan minuman yang memiliki kadar gula tinggi seperti fast food yang sering kita konsumsi. Sama halnya rokok yang telah menjamur di Indonesia, konsumsi gula berlebih melalui fast food juga telah merajalela di zaman ini. Apabila rokok yang sudah menjadi barang konsumtif di mana-mana terkena pajak cukai, boleh jadi suatu saat nanti, sugar tax terhadap fast food dapat menjadi pilihan yang tepat untuk menekan obesitas di Indonesia. Mungkin akan banyak pro kontra mengenai wacana pengenaan sugar tax. Namun kebijakan ini bisa saja dilakukan dengan pertimbangan tertentu. Karena ini adalah bagian dari investasi kesehatan jangka panjang. Ujung-ujungnya berdampak kepada generasi masa depan, di mana kebijakan tersebut dapat menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh gula. Sehingga dapat meningkatkan produktifitas SDM bagi pembangunan nasional.

Dari sisi kesehatan, dengan diberlakukannya sugar tax, akan menimbulkan naiknya harga fast food dan sejenisnya. Sehingga orang yang tadinya sering mengonsumsi fast food akan berpikir berkali-kali untuk membeli makanan tersebut. Akibatnya angka konsumsi fast food dan obesitas dapat terminimalisir.

Dari segi ekonomi, sugar tax dapat memberikan tambahan devisa bagi negara. Melansir dari DDTC News tanggal 22 Februari 2019, sejak diimplementasikan pada April 2018, kebijakan sugar tax di Inggris telah menghasilkan sekitar 153,8 juta pound sterling atau sekitar Rp2,8 triliun. Melansir BBC News, nilai per akhir Oktober 2018 tersebut secara otomatis berdampak pada kenaikan perkiraan penerimaan negara dari pajak gula minuman ringan menjadi sekitar 240 juta pound sterling atau sekitar Rp4,4 triliun dalam setahun penuh.

Kita bisa bayangkan betapa besarnya nilai sugar tax tersebut. Layaknya penerimaan cukai pada rokok sebagai salah satu komponen penyumbang penerimaan APBN kita, sugar tax tentu dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan devisa negara. Dari hasil sugar tax tersebut, pemerintah dapat menggunakan dananya untuk keperluan kesehatan maupun dibidang lainnya. Misalnya, pemerintah dapat memberikan fasilitas yang bagus kepada setiap rumah sakit bahkan sampai menjangkau ke puskesmas di tiap kecamatan. Kemudian di bidang lainnya, pemerintah dapat meningkatkan pembangunan jalan tol, jembatan, bandara, pelabuhan, dan berbagai fasilitas layanan umum untuk kemashlahatan masyarakat.

Menurut penulis, sugar tax patut untuk diperhitungkan demi tercapainya kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 

*) Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja