Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Meningkatkan Ekspor Melalui “Export Assistance”

Efie Kurniawan Thaha 
Pemeriksaan Bea Cukai Ahli Pertama KPPBC TMP B Makassar

Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari wilayah Indonesia yang disebut sebagai daerah pabean. Secara yuridis, barang dianggap telah diekspor jika telah diangkut ke sarana pengangkut yang akan berangkat keluar negeri. Definisi yuridis ini penting untuk memberikan kepastian dalam proses pelayanan dan pengawasan dalam kegiatan ekspor. Berbanding terbalik dengan ekspor, kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean disebut dengan impor.

Ekspor merupakan bagian penting dalam proses perdagangan antara negara dan dapat secara signifikan mengerakkan perekonomian serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Data devisa dari kegiatan ekspor dan impor digunakan untuk menghitung neraca perdagangan suatu negara. Neraca positif artinya terjadi surplus perdagangan jika nilai ekspor lebih tinggi dari impor, dan sebaliknya untuk neraca negatif.

Potensi pasar ekspor sangat besar jika dilihat dari jumlah penduduk yang berpotensi menjadi pembeli. Jika dilihat dari data statistik, 97% calon pembeli berada di  luar negeri dengan Tiongkok sebagai negara dengan potensi pembeli terbesar sejumlah 1,4 miliar penduduk atau 18% dari total potensi pembeli di seluruh dunia, kemudian India dan Amerika Serikat dengan masing-masing 17% dan 4,3%.

Untuk dapat menghasilkan devisa yang lebih besar, Indonesia harus mampu meningkatkan kegiatan ekspor. Peningkatan dapat dilakukan melalui peningkatan jumlah dan/atau nilai barang yang di ekspor. Peningkatan jumlah dilakukan dengan menambah volume komoditi ekspor sedangkan peningkatan nilai barang dilakukan dengan proses pengolahan sehingga menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang siap konsumsi.

Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) yang saat ini berperan sebagai pintu gerbang dalam kegiatan ekspor juga telah aktif berperan dalam mendukung peningkatan kegiatan ekspor. Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai Makassar selaku unit pelaksana di daerah juga melakukan langkah inisiatif dalam rangka meningkatkan kegiatan ekspor di wilayah kerjanya. Salah satu program yang saat ini sedang berjalan adalah program export assistance.

Melalui program export assistance, diharapkan terbentuk komunitas masyarakat berorientasi ekspor. Komunitas ini diharapkan mampu membentuk ekosistem yang mendorong masyarakat semakin aktif dalam kegiatan perdagangan internasional. 

Dalam upaya mewujudkan tujuan program, Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai Makassar melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

Pengenalan dan pelatihan ekspor kepada masyarakat melalui Export Assistant (Pegawai yang ditunjuk menjalankan program export assistance). Saat pandemi Covid-19 merebak, hal ini membuat pergerakan pegawai sangat terbatas, sehingga pelatihan-pelatihan dan diskusi dialihkan ke teknologi informasi seperti aplikasi Zoom, Google Meet, Whatsapp dan Direct Message Instagram. Hal ini membuat jangkauan kegiatan menjadi sangat luas, menembus batas wilayah kerja Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Makassar. 
 
Materi pelatihan tidak hanya terkait dengan tata laksana ekspor, namun juga hal-hal dasar terkait kegiatan perdagangan internasional. Mengenalkan potensi ekspor atas komoditas-komoditas yang ada di sekitar masyarakat yang selama ini telah menjadi produk ekspor. Menampilkan hal-hal dasar terkait pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ekspor seperti shipping line, forwarder, Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK), dll. Selain itu, juga mengajarkan hal-hal terkait legalitas dalam kegiatan ekspor seperti pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB)  dan pemenuhan dokumen atas barang ekspor yang termasuk kategori pembatasan.

Selain berinteraksi langsung dengan masyarakat, program export assistance juga ditujukan untuk membangun sinergi dengan pemerintah daerah (Pemda) setempat. Export assistant ditugaskan berkunjung ke dinas-dinas terkait di pemerintah kabupaten/kota untuk mengenalkan program serta menggali potensi komoditas di masing-masing daerah. Selain itu, export assistant juga melakukan kunjungan ke perwakilan Dewan Kreasi Nasional untuk memantau pengembangan IKM berpotensi ekspor untuk dikembangkan dan didukung lebih lanjut agar dapat mengeskpor produk-produk yang dimiliki.

Kegiatan sinergi juga dilakukan dengan membantu menyebarkan informasi terkait ekspor melalui re-share informasi dari Instagram. Beberapa akun instagram pemerintah yang aktif melakukan kampanye terkait ekspor adalah akun Free Trade Agreement  (FTA) Center dari berbagai daerah dan akun Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dari berbagai negara.

Kemudian, membentuk komunitas melalui group Whatsapp untuk mewujudkan ekosistem ekspor. Para peserta pelatihan yang telah terjaring, digabungkan dalam group-group Whatsapp export assistance. Group-group ini menjadi media penyampaian informasi berkala dan berkelanjutan terkait kegiatan export assistance dan pengembangan ekspor. Selain itu, group-group ini menjadi media diskusi para anggota untuk saling mengenalkan produk masing-masing dan kendala- kendala yang dihadapi.
 
Lebih lanjut, dibentuk group-group Whatsapp berdasarkan jenis komoditas ekspor. Group ini menggabungkan ekportir yang telah melaksanakan kegiatan ekspor secara rutin dan calon eksportir dari pelatihan export assistance. Saat ini telah terbentuk dua group, yaitu group Export Assistance Komoditas Pertanian dan Export Assistance Komoditas Perikanan.

Komunitas-komunitas yang telah dibentuk ini diharapkan bergerak lebih lanjut menjadi kerja sama antar eksportir atau calon eksportir. Selain itu, diharapkan eksportir-eksportir senior dapat menjadi pembimbing atau orang tua asuh bagi calon eksportir, khususnya terkait pembiayaan dalam menyiapkan produk ekspor. 

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah menyadari pentingnya peran media sosial. Berdasarkan data, pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 175.4 juta orang dengan pengguna smartphone sebesar 54,6%. Pengguna media sosial sebesar 160 Juta orang atau sebesar 59 % dari total populasi masyarakat. Mayoritas pengguna media sosial berusia 18 s.d 34 tahun. Adapun media sosial yang diakses paling banyak adalah Youtube, Whatsapp, Facebook, Instagram, dan Twitter.

Oleh karena itu, kantor-kantor vertikal di daerah didorong untuk giat menggunakan media sosial sebagai sarana informasi masyarakat. Pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Makassar juga telah memiliki berbagai media sosial antara lain; Youtube : beacukaimakassar, Whatsapp : 0822 8181 8141, Facebook : beacukaiMakassar, Instagram: beacukaimakassar, dan Twitter : bcMakassar.