Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Bea Cukai Aceh Musnahkan Barang Tak Layak Konsumsi

Jakarta, 11/04/2018 Kemenkeu – Gabungan barang hasil penindakan kepabeanan dan cukai Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Aceh dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) C Banda Aceh memusnahkan barang tidak layak konsumsi bertempat di lapangan pemusnahan Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh pada Selasa (03/04). Pemusnahan ini disaksikan oleh Pejabat yang mewakili Kementerian/Lembaga terkait di antaranya Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh, Kejaksaan, Pengadilan, TNI, Polri, BPOM dan Kantor Pos Indonesia.

Dikutip dari laman Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Kepala KPPBC TMP C Banda Aceh Bambang Lusanto Gustomo yang mewakili Kakanwil Bea Cukai Aceh mengatakan bahwa  daftar barang yang dimusnahkan dengan alasan tidak layak konsumsi/ berbahaya jika dikonsumsi, dan tidak mempunyai nilai ekonomis, terdiri dari pohon kurma, buah kelapa, ayam hidup, obat dan makanan unggas, teh hijau, kosmetik, air softgun/spare part senjata, pakaian bekas, kosmetik, rokok, tembakau iris, makanan manusia, suplemen, gula pasir, beras ketan, alat kesehatan gigi, dan buah kurma.

"Total nilai barang yang dimusnahkan ini  diperkirakan sebesar Rp450.000.000, dengan potensi kerugian negara diperkirakan sebesar Rp150.000.000.  Pemusnahan kali ini dengan cara merusak fungsi barang secara permanen (dirajang/dibakar/ditanam) sehingga diharapkan efek negatif secara kesehatan dan lingkungan atas pemasukan dan peredaran barang ke wilayah NKRI dapat diminimalkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Banda Aceh drh Ibrahim mengatakan bahwa beberapa barang seperti pohon kurma dan buah kelapa yang dimasukkan dari Thailand itu harus dimusnahkan karena membawa media tanah. Disinyalir dalam tanah itu mengandung penyakit dan dapat menular ke tumbuhan lain di Aceh. "Sedangkan pemusnahan ayam hidup dengan cara suntik mati dengan obat-obatan kimia, selanjutnya ayam beserta kandang bawaan impor dibakar lalu ditanam dalam tanah agar ayam yang diindikasikan sebagai pembawa media penyakit unggas tidak menularkan penyakitnya ke sesama unggas,” ungkapnya. (DJBC/hr/rsa)