Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Ahli Indonesia-Australia Bahas Kebijakan Strategis di Bidang Ekonomi

Jakarta, 07/03/2016 Kemenkeu - Reformasi ekonomi lanjutan menjadi kunci bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkesinambungan yang akan mendukung upaya Indonesia untuk naik kelas dari negara kelas menengah (middle income countries).  Untuk dapat melakukan reformasi lanjutan tersebut, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menilai, Indonesia perlu mengembangkan kebijakan yang didesain khusus untuk mengatasi berbagai hambatan dalam perekonomian.

“Salah satu cara untuk mencapai reformasi lanjutan tersebut adalah dengan mengembangkan kebijakan yang efektif, yang didesain khusus untuk  mengatasi structural constrain yang telah membatasi pertumbuhan ekonomi kita,” jelas Menkeu saat membuka Indonesia-Australia High Level Policy Dialogue 2016 yang diselenggarakan di Aula Djuanda Kementerian Keuangan, Jakarta pada Senin (7/3).

Ia meyakini, pertukaran pengetahuan dan ide-ide dalam forum tersebut akan membantu Indonesia untuk menentukan kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Sebagai informasi, Indonesia-Australia High Level Policy Dialogue pertama kali digelar pada tahun 2007 sebagai kegiatan kolaboratif antara kedua negara. Dialog ini mewadahi institusi dan para ahli dari kedua negara untuk membahas isu-isu strategis di bidang ekonomi yang dihadapi oleh Indonesia maupun Australia.

“Untuk dialog tahun ini, saya berharap diskusi dapat dilakukan untuk menjawab tiga pertanyaan berikut; pertama, bagaimana kebijakan fiskal dapat membantu pemerintah untuk mencapai tujuannya terkait pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” katanya. Kedua, lanjutnya, bagaimana pemerintah dapat mendukung sektor industri untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Ketiga, apakah peran ekonomi internasional dalam membantu pemerintah mencapai tujuan pertumbuhan yang inklusif.

Pembahasan dalam forum ini sendiri akan difokuskan pada tiga topik utama, yaitu reformasi kebijakan fiskal, reformasi dan tantangan sektor industri, serta perekonomian internasional. Topik-topik tersebut dipilih karena dinilai relevan dengan kondisi ekonomi kedua negara.(nv)