Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Antisipasi Gejolak Global, Koordinasi Melalui FKSSK Kian Intensif

Jakarta, 28/08/2013 MoF (Fiscal) News - Forum Koodinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) semakin mengintensifkan koordinasi atas policy-response. Demikian dikatakan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah di Jakarta, Senin (26/8).

Pihaknya memuji keputusan pemerintah yang baru saja mengeluarkan empat paket kebijakan untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi, stabilisasi pasar keuangan, perbaikan neraca perdagangan, serta peningkatan investasi dan daya beli masyarakat. Terlebih, lanjut Firmanzah, Bank Indonesia (BI) sebelumnya juga telah menyesuaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin.

Selain operasi pasar, minggu lalu BI juga telah mengeluarkan lima paket kebijakan untuk stabilisasi pasar uang dan moneter di Indonesia. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan keputusan yang memungkinkan emiten melakukan pembelian kembali (buy-back) saham dalam kondisi tertentu yang dapat dilakukan tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Firmanzah menilai, dibanding pada saat krisis ekonomi 1998 dan 2008, fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat. "Ekonomi kita saat ini jauh lebih kuat apabila dibandingkan pada 1998 dan 2008. Meskipun begitu, kewaspadaan, kecepatan dan ketepatan dalam policy-response perlu terus kita tingkatkan," katanya.

Ia menambahkan, terjaganya fundamental ekonomi Indonesia menjadi modal tersendiri dalam menghadapi dampak gejolak perekonomian global. “Terjaganya fundamental ekonomi saat ini ditambah dengan bauran kebijakan baik dalam fiskal-moneter-sektor riil akan meningkatkan daya tahan (resilient) ekonomi kita terhadap dampak gejolak eksternal,” ungkap Firmanzah.

Meskipun demikian, ia mengingatkan pentingnya terus meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan antisipatif. Terlebih, goncangan ini terjadi hanya karena rencana dan belum benar-benar direalisasikannya pengurangan atau penghentian stimulus moneter (quantitative easing) tahap ke-III di Amerika Serikat (AS). Apabila Bank Sentral AS (The Fed) benar-benar merealisasikan hal tersebut, menurut Firmanzah, Indonesia perlu segera menghitung dan merumuskan kembali apakah paket kebijakan yang ada saat ini telah memadai. (ak)