Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 2017 Kombinasikan Optimisme dan Kehati-hatian

Jakarta, 24/11/2016 Kemenkeu - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi pembicara dalam Seminar “Indonesia Economic Outlook 2017” di Mainhall Bursa Efek Indonesia pada Rabu (23/11). Pada acara yang dihadiri para pelaku pasar keuangan ini, Menteri Keuangan memaparkan kondisi ekonomi terkini dan outlook ekonomi 2017.

Pemerintah memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 adalah sebagaimana telah diasumsikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, yaitu 5,1 persen. Menurut Menkeu, angka pertumbuhan tersebut menggambarkan titik yang seimbang antara optimisme dan kehati-hatian.

“Optimisme karena kita mampu menjaga momentum, kehati-hatian karena kita tahu bahwa tantangan eksternal dan mungkin internal harus kita hadapi dan kita selesaikan” terangnya.


Lebih lanjut, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh sebesar 5 persen dan konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh stabil di kisaran 4,8 persen. Selain itu, investasi dari swasta dan capital market diharapkan lebih baik pada tahun depan.

Sementara itu, ekspor dan impor diperkirakan hanya akan tumbuh 0,2 persen dan 0,7 persen. “Hal ini menggambarkan perdagangan global diperkirakan masih lemah,” katanya.

Berbeda dengan pemerintah, beberapa institusi meramalkan kondisi ekonomi yang lebih optimis. Bank Dunia, misalnya, memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan mencapai 5,3 persen. Sementara Bank Pembangunan Asia (ADB), Bloomberg Consensus Forecast, S&P, Fitch,  dan Moodys, berturut-turut memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 sebesar 5,1 persen; 5,3 persen; 5,2 persen; 5,5 persen; dan 5,2 persen.

Meskipun pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih rendah, menurutnya, hal tersebut bukanlah bentuk pesimistis. “Ini adalah titik kombinasi yang seimbang antara optimisme dan kehati-hatian. Dan saya senang untuk mengkombinasikan hal ini, karena mengelola keuangan negara yang hati-hati bukan berarti kita takut, hati-hati bukan berarti saya konservatif, hati-hati tidak berarti saya tidak ambisius, hati-hati is just a basic principal that keuangan negara harus kredibel supaya dia efektif. Dia harus kredibel supaya dia sustainable,” urai Menkeu.(lwp)