Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

BI: Inflasi Masih Terkendali

Jakarta, 12/07/2013 MoF (Fiscal) News - Inflasi inti masih terkendali pada level 3,98 persen (yoy), meski Inflasi pada bulan Juni 2013 meningkat cukup tinggi sebesar 1,03 persen (mtm) atau 5,90 persen (yoy). Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, peningkatan inflasi yang sesuai dengan perkiraan Bank Indonesia tersebut dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, yang kemudian mendorong kenaikan harga kelompok administered prices dan volatile food

"Inflasi, (kami) memperkirakan (sebagai) dampak kenaikan harga BBM (yang) bersifat temporer sekitar tiga bulan, dengan puncaknya pada Bulan Juli 2013, kemudian menurun pada Bulan Agustus 2013, dan kembali pada pola normal pada September 2013," jelas Gubernur BI. Ia menegaskan, BI akan senantiasa mencermati dan merespons secara terukur tekanan inflasi pasca-kenaikan harga BBM bersubsidi.

Selain itu, BI juga akan bekerja sama dengan pemerintah untuk terus memperkuat langkah-langkah dalam memitigasi dampak lanjutan kenaikan BBM terhadap inflasi. Berbagai langkah tersebut diharapkan dapat segera meredam tekanan inflasi sehingga dapat menurun pada kisaran sasaran inflasi 4,5 persen ±1 persen pada tahun 2014.

Sementara itu, BI memandang bahwa perkembangan nilai tukar rupiah saat ini menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Gubernur BI menjelaskan, nilai tukar rupiah pada triwulan II-2013 mengalami depresiasi sesuai dengan nilai fundamentalnya. Secara point to point, nilai tukar rupiah melemah sebesar 2,09 persen (qtq) menjadi Rp9.925 per dolar AS, atau secara rata-rata melemah 1,03 persen (qtq) menjadi Rp9.781 per dolar AS.

Seperti halnya pelemahan mata uang negara-negara kawasan Asia, depresiasi nilai tukar rupiah terutama dipengaruhi oleh penyesuaian kepemilikan non-residen di aset keuangan domestik, yang dipicu sentimen terkait pengurangan (tapering off) stimulus moneter oleh Bank Sentral AS (The Fed). Perkembangan ini mengakibatkan pelemahan rupiah sejalan dengan tren pergerakan mata uang negara-negara di kawasan Asia.(ak)