Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

BI Optimistis Inflasi Tahun 2014 Akan Terkendali

Jakarta, 03/01/2014 MoF (Fiscal) News - Bank Indonesia (BI) optimistis target inflasi di tahun 2014 bisa berada pada kisaran 4,5 plus minus 1 persen. Pasalnya, laju inflasi di awal tahun dimulai dengan cukup terkendali, bahkan di tahun 2013 berada pada level 8,38 persen atau lebih rendah dari prediksi bank sentral yaitu sebesar 9-9,8 persen. Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Jakarta, Kamis (3/1).

Menurutnya, pada triwulan pertama di tahun ini, paling tidak dimulai dengan cukup baik dan terkendali karena tidak ada isu administered price yang bisa membuat harga bergejolak. “Kalau tahun yang lalu kan suasana diskusi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) banyak diwacanakan, sehingga terjadi ekspektasi inflasi. Tapi kalau yang sekarang kita harapkan bisa lebih rendah,” terangnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, di awal tahun ini kemungkinan inflasi masih cukup terkendali. Bahkan untuk bulan Januari ini secara tren mendekati 1 persen, namun diharapkan masih bisa berada di level 0,5 persen seperti pada bulan Desember 2013.

Kendati demikian, sambung dia, ada tantangan yang harus diperhatikan pemerintah yaitu suplai dan distribusi pangan, sehingga inflasi ke depan tidak melonjak. Pasalnya, ada pergeseran panen akibat perubahan cuaca, ditambah dengan beberapa komoditas pangan yang cukup sensitif dan tidak bisa disimpan cukup lama, seperti cabai dan bawang merah.

“Jangan sampai terjadi gejolak harga yang tinggi, misalnya bawang merah itu hanya panen pada Juli dan Agustus bulan lain kosong, ini yang benar-benar harus dijaga pemerintah,” imbuhnya.

Jika ketersediaan bahan pangan tidak mencukupi, menurut Sasmito, pemerintah perlu melakukan antisipasi kebijakan seperti impor. Selain itu, pemerintah juga perlu menjaga harga daging sapi, mengingat tahun lalu cukup bergejolak dan mempengaruhi inflasi.

Di sisi lain, rencana pemerintah mengalihkan biaya distribusi Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke distributor akan memicu kenaikan harga LPG, sehingga berdampak terhadap inflasi dan perlu antisipasi dari sekarang. “Kenaikan harga LPG itu akan berdampak ke inflasi pada bulan Januari. Apalagi, peranan LPG ke inflasi cukup besar karena termasuk kebutuhan masyarakat,” pungkasnya. (ans)