Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

BKF Sosialisasikan Kebijakan Terkini pada Akademisi

Jakarta, 04/06/2014 MoF (Fiscal) News - Dalam rangka menyosialisasikan kebijakan terkini kepada dunia akademis, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan kembali mengadakan sosialisasi kebijakan fiskal di Gedung R.M. Notohamiprodjo. Sosialisasi ini dilaksanakan saat BKF menerima Kunjungan Shariah Economics Forum Universitas Gadjah Mada pada Senin (4/6) lalu.

Sosialisasi kali ini menghadirkan dua narasumber. Narasumber pertama yaitu Kepala Bidang ASEAN, Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB) BKF, Dalyono yang menyampaikan materi bertajuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 Dalam Perspektif Kerja Sama Keuangan ASEAN. Sementara, narasumber kedua, Kepala Bidang Kebijakan Subsidi, Pusat Kebijakan APBN (PKAPBN) BKF, Noor Iskandarsyah menyampaikan materi berjudul Kebijakan Fiskal Tahun 2014.

Dalam paparannya, Kepala Bidang ASEAN PKRB BKF menjelaskan bahwa MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. Intisari dan karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara, dan kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global.

Pada sosialisasi tersebut, ia menekankan isu dan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi MEA 2015, di mana MEA dipandang akan membawa dampak positif bagi peningkatan ekspor dan aliran investasi ke Indonesia. Selama ini, banyak pihak yang memperkirakan Indonesia hanya akan menjadi target pasar dari negara anggota ASEAN lainnya, mengingat Indonesia dipandang belum mampu menghadapi persaingan dengan negara-negara anggota ASEAN lain, terutama Singapura, Malaysia, dan Thailand. Namun, ia optimistis Indonesia dapat berperan lebih baik dan bersaing dalam MEA 2015 mendatang.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebijakan Subsidi PKAPBN BKF menyampaikan perkembangan ekonomi domestic, di mana kinerja indikator perekonomian Indonesia seperti nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi masih cukup baik. Selain itu, dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan tantangan dan arah kebijakan fiskal 2014. Menurutnya, untuk mencapai fiskal yang sehat, kebijakan fiskal harus mampu merespons dinamika perekonomian, menjawab tantangan dan mendukung pencapaian sasaran pembangunan secara optimal melalui tiga fungsi pokok, yaitu alokasi, distribusi, dan stabilisasi.

Terkait risiko fiskal 2014 dan upaya mitigasinya, ia mengungkapkan, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian nasional. Hal tersebut antara lain perlambatan pertumbuhan ekonomi, dinamika nilai tukar rupiah, dinamika pasar saham, tekanan inflasi, defisit transaksi berjalan, dan dinamika pasar surat berharga negara (SBN) yang dapat mengakibatkan risiko pada pengelolaan fiskal. Ia menegaskan, pemerintah telah memitigasi dengan menerapkan paket kebijakan untuk menjaga stabilitas perekonomian.(nv)


Selengkapnya pada Situs Resmi Badan Kebijakan Fiskal