Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Capital Inflow Didorong Pemulihan Ekonomi Lambat

 
 

Jakarta, 09/12/2010 MoF (Fiscal) News - Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan arus modal (capital inflow) yang semakin deras masuk ke Indonesia saat ini didorong oleh pelambatan pemulihan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat. "Kalau AS belum pulih dan Eropa juga, capital' masuk ke emerging economies, tidak hanya Indonesia," ujarnya dalam seminar perbankan menghadapi ketidakpastian global di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan pemulihan ekonomi global berlangsung tidak seimbang dan diliputi ketidakpastian karena pemulihan di negara maju masih lemah, sementara di emerging economies relatif kuat. “Ini menyebabkan arus dana asing tetap deras dengan tingginya ekses likuiditas global dan pelonggaran moneter di sejumlah negara maju," ujarnya.

Menurutnya arus modal akan terus berlanjut masuk hingga 2011 yang diperkirakan meningkat hingga 833,5 miliar dolar AS dari sebelumnya 2010 mencapai 825 miliar dolar AS ke negara-negara berkembang. "Kuatnya fundamental ekonomi dan lebih tingginya suku bunga di emerging economies sebagai salah satu faktor penarik aliran modal," ujar Perry. Namun, ia menyebutkan, derasnya arus modal ini juga mendorong apresiasi nilai tukar dan potensi over-valuation harga saham.

Perry juga menjelaskan adanya perkembangan positif dari arus modal yang mulai masuk di Indonesia dalam bentuk Penanaman Modal asing hingga 13 miliar dolar AS dari tahun lalu sebesar 4,4 miliar dolar AS. Untuk itu, dalam meminimalisir terjadinya gelembung (bubble) dan potensi pembalikan arus modal secara tiba-tiba (sudden reversal), BI tetap mempertahankan suku bunga acuan BI rate, mengakomodasi nilai tukar yang fleksibel agar tidak fluktuatif serta memupuk cadangan devisa.

Selain itu juga menempuh kebijakan macro prudential dengan menerbitkan instrumen berjangka pendek dan cenderung spekulatif dengan kebijakan one-month holding period terhadap SBI, serta menempuh kebijakan macro prudential untuk memperkuat pengelolaan likuiditas domestik. "Kebijakan tersebut antara lain dengan menaikkan Giro Wajib Minimun (GWM) dan menerbitkan term deposit rupiah untuk memperkecil pihak asing mengakumulasi SBI," ujar Perry. (IS)