Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed dan Persiapan Indonesia untuk Menghadapinya

Jakarta, 21/12/2016 Kemenkeu – Pekan lalu, The Federal Reserved dalam sidang The Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate sebesar 0,25 basis poin, yaitu dari 0,5% menjadi 0,75%. Beberapa ekonom menilai, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan persiapan untuk menghadapi kenaikan suku bunga The Fed ke depannya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Masyita Crystallin mengakui bahwa saat ini penganggaran telah dilakukan secara kredibel oleh pemerintah. Selain itu, pemerintah juga terus berusaha mempersempit ketimpangan infrastruktur, agar daya saing ekonomi dapat meningkat. “Tapi, pemerintah perlu memastikan pelaksanaan proyek-proyek prioritas yang berguna sebagai stimulus ekonomi di jangka pendek namun juga untuk meningkatkan potensial output di jangka panjang,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatan suku bunga the Fed akan meningkatkan nilai tukar Dolar terhadap semua mata uang, secara relatif Rupiah dapat terdepresiasi dalam jangka pendek. Akan tetapi, kekuatan nilai tukar, tidak hanya dapat ditentukan oleh faktor global namun juga fundamental ekonomi suatu negara.

“Untuk mengatasinya pemerintah perlu terus meningkatkan fundamental ekonomi dengan manajemen makroekonomi yang baik dan melanjutkan transformasi struktural untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing perekonomian,” jelas Masyita.

Ekonom Yopie Abimanyu mengatakan bahwa dari pemerintah dan BI harus bersiap diri. Kenaikan suku bunga dapat mempengaruhi depresiasi nilai tukar Rupiah. Di sisi APBN, pelemahan rupiah dapat membebani pembayaran hutang dan obligasi dalam Dolar. “Sedangkan dari sisi moneter, BI selama ini melakukan relaksasi moneter melalui penurunan tingkat bunga, kemungkinan harus menahan semua instrumen moneter,” katanya.

Sementara itu, Ekonomi Wahyu Ario Pratomo menjelaskan bahwa salah satu hal yang perlu diantisipasi adalah berkurangnya cadangan devisa Indonesia, karena terjadinya capital outflow dari pasar keuangan. “Bagi Indonesia yang perlu ditingkatkan adalah penanaman modal asing melalui kemudahan dalam berbisnis karena capital inflow ke sektor riil lebih menjamin kestabilan cadangan devisa kita,” ungkapnya. (rsa)