Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Defisit Neraca Transaksi Berjalan Mungkinkan Depresiasi Rupiah

Jakarta, 28/10/2015 Kemenkeu - Kondisi neraca transaksi berjalan (current account) Indonesia yang masih mengalami defisit membuka kemungkinan terdepresiasinya rupiah. “Kita (rupiah) masih akan depresiasi karena current account kita masih defisit,” jelas Plt. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara dalam wawancara dengan kemenkeu.go.id pekan lalu.

Namun demikian, menurutnya, saat ini, defisit neraca transaksi berjalan tersebut juga merupakan hal yang wajar bagi negara berkembang seperti Indonesia. “Untuk negara berkembang seperti Indonesia, current account defisit itu sehat,” tambahnya.

Hal ini dikarenakan, saat ini, penyebab terjadinya defisit tersebut lebih disebabkan impor bahan baku industri. Berbeda dengan pada waktu lampau, di mana defisit neraca transaksi berjalan disebabkan oleh impor bahan bakar minyak (BBM).

“Dulu current account deficit kita itu terjadi gara-gara harga bensin terlalu murah, impor terlalu banyak. Sekarang nggak ada lagi harga bensin yang terlalu murah itu, yang ada adalah current account deficit kita karena untuk bahan baku,” jelasnya.

Untuk menyudahi defisit pada neraca transaksi berjalan tersebut, menurutnya, Indonesia harus mulai menumbuhkan sektor manufaktur, terutama yang memproduksi bahan baku industri. Dengan demikian, impor bahan baku sedikit demi sedikit akan berkurang, sehingga mengurangi tekanan pada neraca transaksi berjalan.
 

 

“Kalau manufaktur bisa kita tumbuhkan, maka seharusnya sedikit demi sedikit bahan baku ini hilang dari impornya. Tapi ini bukan masalah satu dua tahun, ini mungkin masalah lima tahun, masalah sepuluh tahun,” pungkasnya.(nv)