Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Didorong Sektor Komoditas, Pertumbuhan Ekonomi Sumatera dan Kalimantan Lebih Lambat

Jakarta, 27/11/2015 Kemenkeu - Pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi dua wilayah yang paling terdampak penurunan harga komoditas, sehingga pada tahun 2015 ini, keduanya mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih dalam dibanding wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Menurut Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro, hal ini dikarenakan, kedua wilayah tersebut perekonomiannya didominasi oleh sektor komoditas. Sumatera dengan kelapa sawitnya, sementara Kalimantan dengan batu baranya.

Dengan tren penurunan harga komoditas dunia dalam beberapa tahun terakhir, otomatis keduanya menjadi dua wilayah yang lebih terdampak dibanding wilayah-wilayah lain di Indonesia yang tidak bergantung pada sektor komoditas untuk mendorong perekonomiannya.

“Sumatera dan Kalimantan, dua-duanya adalah yang dominan batu bara, dominan kelapa sawit. Sumatera tumbuhnya cuma di seputaran 3 sampai 3,5 persen. Kalimantan, bahkan triwulan III (2015) kontraksi 0,4 persen, triwulan I-II pun cuma tumbuh 1 sampai 1,5 persen,” jelas Menkeu dalam Kompas 100 CEO Forum pada Kamis (26/11) di Jakarta.

Sementara itu, wilayah-wilayah lain yang perekonomiannya tidak didorong oleh sektor komoditas, mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih baik. Bali dan Nusa Tenggara, misalnya, yang perekonomiannya didorong oleh sektor pariwisata, pertumbuhan ekonominya terus meningkat. Dari kisaran 9 persen pada triwulan I-2015, perekonomian daerah ini terus meningkat hingga menjadi 11 persen pada triwulan III-2015.

“Sulawesi, tumbuh masih di level 7-8 persen triwulan I sampai triwulan III (2015) ini. Sulawesi sebenarnya juga tergantung pada komoditas, tetapi dia bisa menetralkan pengaruh penurunan harga nikel, karena Sulawesi masih kuat di perkebunan cokelat, di perikanan, maupun di perkebunan lainnya,” tambahnya.

Sementara itu, meski tidak setinggi Bali, Nusa Tenggara dan Sulawesi, pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa tercatat relatif stabil tahun ini, yaitu berada di kisaran 5 persen. “Pulau Jawa masih stabil di 5 persen, karena Jawa masih fokus di manufaktur,” ungkapnya.(nv)