Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Dunia Bersiap Sukseskan KTT Luar Biasa OKI ke-5

Jakarta, 02/03/2016 Kemenkeu - Pemerintah Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) ke-5 tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. KTT akan diselenggarakan di Jakarta pada 7 Maret 2016, didahului dengan Pertemuan Pejabat Tinggi dan Pertemuan Tingkat Menteri pada 6 Maret 2016.

Mengangkat tema ‘United for a Just Solution’, konferensi ini merupakan KTT Luar Biasa pertama OKI yang secara khusus membahas isu Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. Sebagaimana dijelaskan dalam narasi tunggal Tim PKP Kementerian Komunikasi dan Informatika, KTT ini bertujuan untuk memperkuat persatuan di kalangan negara anggota OKI dan mencari strategi terobosan untuk memulai kembali proses perdamaian dan menyelesaikan isu Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. Mengingat prospek kemerdekaan Palestina masih jauh, penyelenggaraan KTT ini juga diharapkan dapat menjaga agar isu Palestina tetap berada dalam perhatian masyarakat internasional.

KTT ini merupakan bentuk nyata dari dukungan penuh dan solidaritas Indonesia dan OKI terhadap isu Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. Bagi Indonesia, dukungan terhadap Palestina merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk menghapuskan penjajahan dan melaksanakan ketertiban umum berdasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebelumnya, pada tahun 2015 lalu, Pemerintah RI juga telah menjadi tuan rumah Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang mengadopsi sebuah Deklarasi mengenai Palestina, dan Konferensi Internasional mengenai Jerusalem di Jakarta.

Melalui KTT ini, OKI berharap dapat menghasilkan sebuah resolusi yang menegaskan posisi prinsip dan komitmen OKI untuk mendukung Palestina dan Al-Quds Al-Sharif, dan Jakarta Declaration yang digagas oleh Indonesia dan memuat langkah-langkah konkret untuk dilakukan oleh para pemimpin dunia Islam guna memajukan isu Palestina dan Al-Quds Al-Sharif.

Penyelenggaraan KTT ini sendiri dilatarbelakangi oleh berbagai perkembangan yang mengkhawatirkan di Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. Proses negosiasi perdamaian antara Palestina dan Israel yang tidak menunjukkan kemajuan berarti dan siklus kekerasan baru yang dimulai pada akhir tahun 2015 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Otoritas dan pemukim Israel terus menggunakan kekerasan yang melampaui batas terhadap warga sipil Palestina. Israel juga terus melanjutkan pembangunan pemukiman ilegalnya, serta menghancurkan rumah warga Palestina dan mengambil alih tanah warga Palestina dalam proses tersebut.

Sebagai akibatnya, warga Palestina hidup dalam kesulitan ekonomi dan berada di bawah ancaman berbagai tindak diskriminasi lainnya. Selain itu, Israel juga membatasi akses bagi warga muslim Palestina ke Masjid Al-Aqsa, dan pada saat yang sama mencoba mengubah komposisi demografi, karakter dan status quo Al-Quds Al-Sharif.(nv)