Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Ketua Indonesia e-Commerce Association (idEA) bidang Ekonomi Bisnis, Ignasius Untung dalam Seminar Utama Hari Oeang dengan tema "2030: Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Aula Dhanapala kantor pusat Kementerian Keuangan Jakarta pada Kamis (26/10).

Ekonomi Indonesia Bertransformasi Dari Konvensional Menjadi Digital

Jakarta, 27/10/2017 Kemenkeu -  Indonesia tengah berada dalam situasi transformasi, dari konvensional menjadi digital ekonomi atau e-commerce. Secara jelas, terlihat konsumen sudah mulai beralih kepada transaksi online, sehingga membuat banyak ritel konvensional memutuskan untuk tutup.

Hal ini disampaikan Ketua Indonesia e-Commerce Association (idEA) bidang Ekonomi Bisnis, Ignasius Untung dalam Seminar Utama Hari Oeang dengan tema "2030: Menjadi Kekuatan Baru Ekonomi Dunia Melalui Transformasi Digital dan APBN yang Berdaya Saing” di Aula Dhanapala kantor pusat Kementerian Keuangan Jakarta pada Kamis (26/10).

Menurut Untung, fenomena ini dikarenakan adanya perubahan pola hidup masyarakat seiring dengan berkembangnya teknologi. Dengan teknologi, para pelaku usaha e-commerce mulai menjamur di Indonesia.

"Memang digital ini satu kekuatan yang tidak terabaikan," kata Untung. 

Tidak hanya pada pusat perbelanjaan, Untung mengungkapkan, hampir seluruh sektor sudah mulai menyediakan platform digital ekonominya. Seperti transportasi hingga pembelian tiket.

"Transportasi juga seperti Bluebird, Express sudah kewalahan hadapi Uber dan Gojek," jelasnya.

Dari 262 juta penduduk Indonesia, 132,7 juta pengguna atau 51% masyarakatnya pengguna internet, sekitar 106,0 juta pengguna media sosial, dan pengguna aktif telepon genggam sebanyak 92,0 juta atau sekitar 35%.

Untuk aktivitas e-commerce, 48% penduduk Indonesia mencari informasi produk online, 46% mengunjungi toko online, 41% membeli produk online, mengenai aksesnya 34% membeli melalui komputer, sedangkan melalui telepon genggam atau smartphone sebesar 33%.

Jika secara keseluruhan, transaksi e-commerce di Indonesia itu pembelinya sebanyak 24,74 juta atau 9% dari total populasi maka total nilai transaksi tercapai US$ 5,6 miliar, jumlah yang yang cukup besar untuk sebuah industri baru.

"Jadi angka transaksi e-commerce lumayan besar meskipun baru 2%, tapi sudah buat panik, bagaimana 60%?," kata Untung. (mj/nr)