Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Filosofi Sapu Lidi Ingatkan Kekuatan Persatuan dan Kesatuan Pada Momen Harkitnas

Jakarta, 20/05/2019 Kemenkeu – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo mengutip isi pidato Presiden Soekarno pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 1963, bahwa ratusan lidi akan tercerai berai, tidak berguna, dan mudah patah jika tidak diikat. Namun, jika lidi-lidi tersebut disatukan dan diikat maka tak akan ada yang mampu mematahkannya. Demikian pula rakyat Indonesia yang harus menjaga persatuan dan kesatuannya.

“Apalah artinya pembangunan yang masif jika masyarakatnya terpecah belah. Berbagai upaya pemerintah untuk melakukan pembangunan sesungguhnya akan sia-sia tanpa ada rasa memiliki yang tercipta dari semangat persatuan dan kesatuan seluruh rakyatnya. Oleh sebab itu, saya ingin menyerukan kembali betapa pentingnya menghadirkan kembali semangat nasionalisme dalam diri kita untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita the founding fathers,” tegasnya pada upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-111 Tahun 2019 di lingkungan Kemenkeu. 

Kementerian Keuangan memiliki 80.524 pegawai yang tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan RI, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Tugas Kemenkeu tidak hanya sebagai pembuat kebijakan publik dan melakukan pelayanan masyarakat, namun juga menjadi perekat dan pemersatu bangsa melalui kebijakan fiskal yang inklusif. 

Untuk menjalankan fungsi tersebut, ASN Kemenkeu yang mayoritas generasi muda perlu meneladani perjuangan yang telah dirintis oleh anak muda melalu Boedi Oetomo. Generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat, kepekaan sosial untuk senantiasa menjaga kedamaian di tengah-tengah masyarakat yang majemuk sehingga persatuan bangsa selalu terjaga dari waktu ke waktu.

“Salah satu langkah nyata yang harus diterapkan seluruh ASN di era digital ini adalah etika komunikasi dan bijak dalam bermedia sosial. ASN dilarang untuk menyebarkan berita palsu (hoax) dan ujaran kebencian bermuatan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang berpotensi sebagai sumber perpecahan bangsa ini,” pungkasnya. (ip/hpy/nr)