Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Yayasan Atma Jaya mengundang Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati untuk menghadiri dan memberikan kuliah umum pada acara Malam Penganugerahan Frans Seda Award 2018.

Frans Seda Award Berikan Penghargaan Kepada Masyarakat di Bidang Kemanusiaan dan Pendidikan

Jakarta, 29/10/2018 Kemenkeu- Yayasan Atma Jaya mengundang Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati untuk menghadiri dan memberikan kuliah umum pada acara Malam Penganugerahan Frans Seda Award 2018. Frans Seda merupakan salah seorang mantan Menteri Keuangan yang bertugas pada tahun 1966-1968. Penghargaan ini diberikan Atma Jaya kepada masyarakat atas peran dan prestasinya di bidang kemanusiaan dan pendidikan. 

"Banyak mantan Menkeu yang memberi inspirasi bagi kita. Saya berharap bisa terus membuat Indonesia menjadi kebanggaan.Saya senang Frans Seda Award memberikan award kepada pendidikan dan kemanusiaan. Dua hal ini yang sangat penting," ujar Menkeu di Universitas Katolik Atma Jaya, Jumat (26/10).

Kepada dosen dan mahasiswa Unika Atma Jaya, Menkeu menjelaskan mengenai perkembangan ekonomi terkini dalam paparan yang berjudul "Mendorong Kebijakan Fiskal yang Sehat, Adil, dan Mandiri". 

Ia membagi kuliah umumnya menjadi empat topik bahasan, yaitu perkembangan ekonomi, tantangan pembangunan, arah dan strategi kebijakan fiskal, dan reformasi struktural.

"Menjaga ekonomi seperti lari maraton, larinya harus diperhitungkan. Tidak bisa lari 3 km trus kehabisan napas," jelasnya.

Menkeu menambahkan, mendesain APBN tidak bisa sembarangan karena perubahan ekonomi dapat terjadi begitu cepat. Oleh karena itu, penting untuk mampu mengelola ekonomi dengan tetap objektif dan fokus mencapai tujuan berbangsa yaitu mencapai kesejahteraan masyarakat yang adil dan makmur serta merata di seluruh bagian hingga pelosok negeri.

Sebagai informasi, tahun 2018, Frans Seda Award memberikan penghargaan kepada Brigadir Polisi Muhammad Saleh dan Edi Syahputra. Brigadir Polisi Muhammad Saleh berasal dari Bombana, Sulawesi Tenggara yang mendirikan sekolah swasta bernama "Anak Soleh". Sedangkan Edi Syahputra berasal dari Langkat, Sumatera Utara, mendirikan Sanggar Tratama sebagai upaya menjauhkan generasi muda dari pergaulan buruk seperti narkoba. (mra/ind/nr)