Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

G20 Berharap Negara Maju Dapat Implementasi Kebijakan Kombinasi

Jakarta, 26/04/2016 Kemenkeu - Negara-negara anggota G20 kembali menyampaikan pesan untuk para pembuat kebijakan, khususnya di negara maju, agar dapat menggunakan kombinasi kebijakan fiskal, moneter dan reformasi struktural, dalam rangka mendorong pertumbuhan. Menurut Plt. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara, pesan serupa pernah disampaikan saat pertemuan G20 di Shanghai. Pesan ini digaungkan kembali saat pertemuan G20 di Washington D.C karena beberapa negara maju hanya fokus pada satu kebijakan tertentu saja.


Menurut Suahasil, dalam pertemuan tersebut, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menyebutkan bahwa Indonesia telah menggunakan kombinasi kebijakan tersebut sejak tahun lalu. Dari sisi fiskal, penghapusan subsidi BBM telah berlangsung di tahun lalu. “Tahun lalu subsidi premium kita hapus, kita turunkan subsidi BBM kemudian uangnya kita pindahkan untuk pengeluaran infrastruktur,” jelasnya saat konferensi persi di Gedung Djuanda 1, Jakarta pada Jumat (22/04).


Selain itu, pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi 1-11 untuk memberi perubahan di sektor struktural. “Plus monetary policy, sejak tahun lalu Bank Indonesia sudah memainkan makroprudential seperti loan to value ration. Akhir tahun lalu reserve requirement. Setelah fed rate kelihatan agak stabil, mulai Januari kita pake suku bunga, ini mengarah ke accommodative monetary policy,” jelasnya.


Suahasil menyebut, Menkeu juga menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan tersebut memberi hasil di 2015 dimana inflasi, defisit serta pertumbuhan dapat terjaga. “Kita tunjukkan hasil di 2015, inflasi kita stabil di kisaran 3,35 persen, defisit kita terjaga di sekitar 2,5 persen serta pertumbuhan tetep tumbuh di 4,8 persen tahun lalu,” ungkapnya. (as)