Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Hadapi Perang Dagang AS-China, Menkeu Optimistis Investasi Ikut Mengalir ke Indonesia

London, 27/06/2019 Kemenkeu - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati optimistis bahwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China juga berdampak dalam mengalirkan investasi ke Indonesia karena Indonesia memiliki segala yang kondisi yang diperlukan untuk menjadi tempat investasi. Kondisi tersebut antara lain infrastruktur, simplifikasi peraturan, ease of doing bisnis yang meningkat serta Indonesia juga merupakan pasar yang besar. 

Hal itu disampaikannya dalam wawancara dengan TV Bloomberg yang dibawakan oleh Tom Keene and Nejra Cehic saat Menkeu menghadiri Bloomberg Emerging & Frontier Forum di London pada Selasa (25/06). 

"Kita punya segala yang diperlukan investasi untuk mengalir ke Indonesia seperti infrastruktur yang telah berkembang selama lima tahun terakhir, simplifikasi dan deregulasi peraturan, ease of doing bisnis yang meningkat. Indonesia juga merupakan pasar yang besar. Jadi, kita memiliki kondisi yang menarik di dalam perekonomian kita sendiri, stabilitas makro juga kebijakan yang prudent yang telah diterapkan terus-menerus di Indonesia, juga reputasi kemudahan tempat berbisnis dan iklim ivestasi di Indonesia. Kita juga secara agresif mengkomunikasikan kebijakan ini," paparnya. 

Ia percaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 ini masih dapat tumbuh di kisaran 5,3% dari dampak global perang dagang ini. Namun, dengan berbagai risiko yang harus dihadapi seperti menurunnya ekspor, impor dan harga komoditi, Indonesia menargetkan pertumbuhan yang lebih moderat di kisaran 5,17% hingga 5,2%.

"Kita masih menargetkan pertumbuhan 5,3%. Pada kuarter pertama kita tumbuh 5,07% yang disumbangkan dari kombinasi dampak seasonal dan mendekati Pemilu di bulan April. Kita melihat dampak perang dagang dan pelemahan global pada ekspor yang negatif, jadi ada kontraksi ekspor di kuarter pertama. Hal itu menciptakan dinamika pada sisi impor yang juga menurun seperti juga harga komoditi. Risiko ini yang membuat proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun ini menjadi 5,17% hingga 5,2%," ujarnya. (nr/ds)