Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Industrialisasi Sektor Pertanian Sebagai Produk Ekspor Utama

Jakarta, 13/03/2014 MoF (Fiscal) News - Kementerian Keuangan menyarankan pengembangan resource-based industrialization sebagai produk ekspor utama, mengingat Indonesia memiliki keunggulan dalam sektor ini.

"Kalau saya boleh ajukan saran, kita kombinasikan antara tempatnya Pak Rusman (Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan) dengan Pak Alex (Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun), yaitu kita harus menuju agar produk-produk yang dipromosikan atau diunggulkan oleh teman-teman (Kementerian) Perdagangan adalah sebaiknya produk-produk yang berasal dari resource-based industrialization unggulan," tutur Wakil Menteri Keuangan II Bambang P.S. Brodjonegoro di Jakarta, Rabu (12/3).

Lebih lanjut Wamenkeu II memaparkan, jika arah kebijakan Indonesia diarahkan ke labor intensive (padat karya), maka Indonesia harus bersaing ketat dengan negara-negara lower income, seperti Bangladesh, Kamboja dan Myanmar. Menurutnya, Indonesia akan mengalami kesulitan jika harus bersaing dengan negara-negara tersebut. "Akan sulit kita lawan (negara-negara tersebut), karena upah buruhnya relatif lebih murah. Jadi, Indonesia tidak lagi dalam tahap labor intensive dimana kita bersaing dengan negara-negara itu," jelasnya.

Sementara itu, untuk masuk ke dalam industri capital intensive (padat modal) juga bukan merupakan hal yang mudah. Hal ini mengingat, produk-produk Indonesia harus melawan produk dari negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang dan Eropa. "Misalnya untuk produk-produk elektronik yang kita mungkin belum punya keunggulan mutlak. Keunggulan kita mungkin sedikit-sedikit ada, tapi tidak keunggulan utama. Artinya, di capital intensive, kita belum bisa bersaing," tuturnya.

Meski Indonesia terjebak dalam dilema tersebut, Wamenkeu II mengatakan bahwa Indonesia masih dapat meningkatkan ekspor dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan perternakan. Namun, ia berharap Indonesia dapat mengekspor produk bernilai tambah, bukan ekspor bahan mentah. “Saya melihat masa depan Indonesia dalam konteks ekspor itu di situ, di samping kita harus mengembangkan yang capital intensive atau technology intensive. Karena itu keunggulan kita menguasai pasar internasional," jelasnya.(ans)