Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Seminar The Belt and Road Initiative: Building Bonds Across Asia, Europe and Beyond dalam rangkaian kegiatan International Monetary Fund – World Bank Group Annual Meetings 2017 (IMF-WBG AM 2017) di Washington DC pada Kamis, (12/10).

Ini Cara Indonesia Membangun Konektivitas

Washington DC, 13/10/17 Kemenkeu -  Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan upaya Indonesia untuk membangun konektivitas dan menjadi bagian dari Sabuk Ekonomi dan jalur Sutera yang mengacu pada jalur Sutera Maritim abad ke-21. Hal itu disampaikannya dalam Seminar The Belt and Road Initiative: Building Bonds Across Asia, Europe and Beyond dalam rangkaian kegiatan International Monetary Fund – World Bank Group Annual Meetings 2017 (IMF-WBG AM 2017) di Washington DC pada Kamis, (12/10).

Pertama, Menkeu mengatakan, Indonesia mengedepankan konektivitas dan kerjasama antar negara untuk menghasilkan lebih banyak perdagangan dan investasi.

“Prioritas Indonesia saat ini adalah konektivitas dan kerjasama antar negara karena banyak negara saat ini hanya mementingkan dan mengamankan kepentingan dirinya sendiri dari segi politik dan kebijakannya. Indonesia punya keterbukaan dan menghubungkan negara-negara untuk lebih banyak perdagangan dan investasi,” terangnya.

Kedua, Menkeu menambahkan, dalam membangun infrastrukturnya, Indonesia juga mengundang sektor swasta untuk mengisi gap infrastruktur agar dapat menghubungkan konektivitas dengan tujuan untuk memacu produktivitas, efisiensi, dan kualitas pertumbuhan yang lebih sehat dan inklusif.

“Kedua, investasi infrastruktur untuk membangun konektivitas. Indonesia sangat berambisi membangun infrastrukturnya untuk mengejar infrastruktur gap. Pemerintah hanya memiliki 40% anggaran. Oleh karena itu Pemerintah mengundang sektor swasta untuk investasi tersebut. Dua dampak yang diharapkan dari konektivitas tersebut untuk perekonomian adalah produktivitas dan efisiensi untuk kualitas pertumbuhan yang lebih sehat dan inklusif,” ungkapnya.  

Ketiga, Menkeu menguraikan pembangunan infrastruktur tidak hanya terfokus pada hard infrastructure atau secara fisik tetapi juga soft infrastructure, seperti kebijakan Bea Cukai, prosedur yang lebih sederhana, serta kebijakan tarif.

“Ketiga, pembangunan infrastruktur untuk konektivitas tidak hanya berdasarkan hard infrastructure seperti pelabuhan tetapi juga soft infrastructure seperti custom policy, kebijakan tarif, prosedur custom yang sederhana dan seragam serta kapasitas yang setara. Indonesia memiliki 30 proyek untuk jalur Belt and Road yang menghubungkan seluruh Indonesia dan negara-negara ASEAN, Asia dan dunia secara keseluruhan,” pungkasnya. (nr/rw)