Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Inilah Realisasi Indikator Ekonomi Makro Tahun 2015

Jakarta, 04/01/2016 Kemenkeu - Pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan untuk merespons dinamika ekonomi yang terjadi sepanjang tahun 2015. Hal tersebut terefleksi dalam realisasi indikator ekonomi makro tahun anggaran 2015.

Secara rinci, realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2015 untuk sementara diperkirakan mencapai sekitar 4,73 persen, lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 yang sebesar 5,7 persen. Pertumbuhan ekonomi ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan percepatan pengeluaran pemerintah, terutama pada semester II-2015.

“Pertumbuhan konsumsi ditopang oleh beberapa kebijakan dalam rangka mempertahankan daya beli, melalui antara lain peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dan penguatan jaring pengaman sosial, (yang) mampu menjaga tingkat konsumsi rumah tangga,” jelas Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan N.E. Fatimah dalam keterangan resminya pada Minggu (3/1).

Selanjutnya, realisasi inflasi tahun 2015 diperkirakan berada pada kisaran 3,1 persen, lebih rendah dari asumsi dalam APBN-P 2015 yang sebesar 5,0 persen. “Rendahnya laju inflasi pada tahun 2015 terutama disebabkan oleh terjaganya pasokan barang kebutuhan pokok masyarakat, seiring dengan peningkatan produksi pangan dan jalur distribusi, ekspektasi inflasi yang menurun, serta perubahan skema subsidi energi,” tambahnya.

Realisasi rata-rata suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tiga bulan pada tahun 2015 mencapai 5,97 persen, berada di bawah asumsi dalam APBN-P 2015 yang sebesar 6,2 persen. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh masih tingginya permintaan surat berharga negara, meskipun likuiditas global masih relatif ketat.

Sementara itu, realisasi rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2015 mencapai Rp13.392 per dolar AS, atau mengalami pelemahan dibandingkan asumsinya pada APBN-P 2015 yang sebesar Rp12.500 per dolar AS. Dari faktor internal, depresiasi rupiah tersebut antara lain dipengaruhi oleh permintaan valuta asing untuk pembayaran utang dan dividen. “Sementara, dari faktor eksternal dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat dan depresiasi Yuan,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, realisasi rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tahun 2015 mencapai 50 dolar AS per barel, lebih rendah dari asumsi dalam APBN-P 2015 yang sebesar 60 dolar AS per barel. Hal ini dipengaruhi oleh lemahnya permintaan global, serta masih tingginya pasokan minyak dunia. 

Sementara, realisasi lifting minyak mentah sepanjang periode Desember 2014 hingga November 2015  tercatat mencapai 779 ribu barel per hari, lebih rendah dibanding target dalam APBN-P 2015 yang sebesar 825 ribu barel per hari. Terakhir, realisasi lifting gas mencapai 1.195 ribu barel setara minyak per hari, atau di bawah target dalam APBN-P 2015 yang sebesar 1.221 ribu barel setara minyak per hari.(nv)