Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Jaga Defisit Anggaran di Bawah 2,4 Persen

Jakarta, 11/09/2013 MoF (Fiscal) News - Depresiasi nilai tukar rupiah diakui mempengaruhi peningkatan yield (imbal hasil) Surat Berharga Negara (SBN) dan pembayaran bunga utang. Meski peningkatan tersebut memberikan tekanan terhadap APBN, tetapi diyakini defisit anggaran masih akan dijaga di bawah 2,4 persen. Demikian disampaikan Menteri Keuangan M. Chatib Basri di Jakarta, Selasa (10/9).

Menurutnya, kondisi perdagangan obligasi dunia saat ini mengalami pembalikan arah sejalan dengan pengetatan kebijakan moneter. Setelah sebelumnya yield obligasi mengalami penurunan di tahun 2009 akibat penguatan nilai tukar mata uang.

“Kalau kebijakan moneternya ditetapkan artinya long term interest rate-nya harus naik, maka yield-nya juga harus naik. US treasury bill sudah naik 2,93 persen, kalau US treasury bill naik maka semua mengalami kenaikan yield,” terangnya.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar ini juga memberi revenue pemerintah, sehingga dari sisi fiscal deficit masih bisa dijaga di bawah level 2,4 persen meski ada peningkatan bunga utang. Hingga 30 Agustus 2013, realisasi defisit anggaran sebesar Rp100,8 triliun atau 45 persen dari target sebesar Rp224,2 triliun.  “Tapi hal ini (peningkatan yield) semua negara trennya sama,” pungkasnya. (ans)