Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Jaga Tingkat Inflasi, BI Lakukan Langkah Intervensi Moneter

Jakarta, 26/06/2013 MoF (Fiscal) News - Tanpa intervensi moneter, laju inflasi pada tahun ini berpotensi mencapai 7,9 persen. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, dampak dari adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan terjadi pada tiga bulan pertama. "Efeknya di sekitar Bulan Juni, Juli dan Agustus," katanya.  

Namun, ia juga berpendapat bahwa laju inflasi akan menurun secara bertahap selepas kenaikan harga BBM tersebut. "Nantinya (inflasi) juga akan turun secara berkala saat masuk di bulan keempat. bahkan efeknya sudah hilang di bulan itu," jelasnya. 

BI memperkirakan, dampak langsung dan tidak langsung dari kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap inflasi sebesar 2,54 persen. Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan, dampak langsung dari kenaikan harga premium sebesar 44,44 persen dan solar sebesar 22,22 menyumbang inflasi sebesar 1,32 persen. "Sedangkan dampak tidak langsung dari kenaikan BBM bersubsidi seperti naiknya tarif angkutan berkontribusi (terhadap inflasi) sebesar 0,82 persen. Untuk dampak tidak langsung pada harga komoditas lain adalah sebesar 0,4 persen," jelasnya. 

Dody mengungkapkan, BI akan terus melakukan intervensi moneter agar inflasi pada akhir tahun dapat berada pada kisaran 7,65 persen. Intervensi yang dilakukan BI adalah dengan menaikkan suku bunga acuan dan suku bunga deposit rate, masing masing sebesar 25 basis poin.(ak)