Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Menkeu pada konferensi pers usai Kemenkeu, BI, OJK, & LPS gelar pertemuan dengan lebih dari 40 institusi keuangan pada Jumat malam (11/05).

Kemenkeu, BI, OJK, & LPS gelar pertemuan dengan lebih dari 40 institusi keuangan

Jakarta, 09/05/2018 Kemenkeu - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo, Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dan Ketua Dewan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah menyampaikan Perkembangan Pasar Surat Berharga Negara dan Pengaruh Ekonomi Global pada Konferensi Persi di Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Jum'at (11/05).

Pada kesempatan tersebut Menkeu menyampaikan, Kemenkeu, BI, OJK dan LPS mengundang lebih dari 40 institusi keuangan baik pada level direktur utama, CEO maupun para analis.

"Tujuannya adalah untuk memberikan update terhadap kondisi terkini di dalam perkembangan perekonomian dan juga perkembangan baik di sektor keuangan, capital market dan surat berharga. Untuk juga memberikan keyakinan dan update mengenai apa yang dilakukan bersama-sama antara Pemerintah (Kemenkeu), Bank Indonesia, OJK dengan LPS untuk menjaga stabilitas dari perekonomian Indonesia," ujarnya.

Menkeu menjelaskan, seperti diketahui bahwa dalam beberapa minggu terakhir atau bahkan dalam satu setengah bulan ini, volatilitas perekonomian di dalam negeri dan secara global meningkat cukup tinggi diakibatkan karena adanya langkah-langkah yang dilakukan oleh Federal Reserve didalam mengadjust atau menyesuaikan tingkat suku bunganya menuju apa yang disebut normal yang baru, a new normal.

"Dan ini terjadi bersamaan dengan berbagai kebijakan utama di Amerika Serikat baik yang berhubungan dengan perdagangan yaitu ketegangan perdagangan antara Amerika dengan RRT, kemudian juga  kebijakan fiskal policy-nya Amerika Serikat di bidang perpajakan, penurunan dan ekspektasi kenaikan defisit serta kebijakan security di Amerika berhubungan dengan korea utara maupun perjanjian nuklir dengan Iran," jelasnya.

Kesemuanya memberikan dampak dari sisi dinamika yang semakin meningkat, baik diukur dari bentuk capital flow yang berasal dari semua negara, kemudian menuju ke Amerika baik dalam bentuk yield atau price dari bond atau surat berharga dari US Treasury, berdampak kepada berbagai surat berharga di seluruh dunia termasuk juga stock exchange.

"Kita tentu di satu sisi melihat bahwa ini adalah suatu situasi yang temporer namun harus tetap diwaspadai. Di satu sisi bisa dijelaskan bahwa perbaikan perekonomian Amerika menyebabkan adanya policy adjustment yang harus dilakukan oleh pemerintah Amerika dan  berdampak kepada seluruh dunia, namun disisi lain juga kita tetap melihat dampaknya terhadap perekonomian global yang kemudian berimbas kepada perekonomian negara-negara berkembang termasuk Indonesia," tukas Menkeu. (ip/ind/rsa)