Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Kenaikan Anggaran Subsidi Listrik Akibat Perubahan Asumsi Makro

Jakarta, 27/05/2013 MoF (Fiscal) News – Pemerintah mengajukan kenaikan anggaran subsidi listrik, selain subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2013. Demikian disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) II Mahendra Siregar.

Subsidi listrik dalam RAPBN-P 2013, lanjutnya, diajukan sebesar Rp99,97 triliun, atau mengalami kenaikan dari yang sebelumnya Rp80,9 triliun. Wamenkeu II mengungkapkan bahwa kenaikan anggaran subsidi listrik dan lainnya tersebut disebabkan adanya perubahan asumsi makro, yang antara lain harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) dari 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel menjadi 108 dolar AS per barel.

Selain itu, lanjut Wamenkeu II, adanya selisih pembayaran akibat perubahan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dari sebelumnya Rp9.300 per dolar menjadi Rp9.600 per dolar. “Jadi, sebenarnya apa yang terjadi karena implikasi perubahan nilai tukar, sehingga berlaku untuk semua pengeluaran lain yang ada kaitannya dengan penggunaan mata uang asing. Demikian juga dengan perubahan harga minyak dunia. Kalau di situ ada penerimaan atau pengeluaran, pasti terimplikasi,” kata Wamenkeu II.

Menurut Wamenkeu II, adanya perubahan dalam postur anggaran merupakan hal yang wajar. Terlebih, perubahan tersebut merupakan upaya penyesuaian terhadap dinamika ekonomi global yang saat ini masih belum stabil. Namun demikian, Wamenkeu II belum dapat memastikan apakah kenaikan tarif listrik yang diberlakukan dapat meredam membengkaknya anggaran subsidi listrik pada tahun ini. “Kami akan lihat lagi, dievaluasi mendekati akhir tahun dengan adanya perubahan-perubahan yang dilakukan dalam tarif listrik. Saya tidak bisa mengkonfirmasi sekarang,” pungkas Wamenkeu II.(nic)