Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Kenaikan TTL Industri dan Rumah Tangga Menyumbang Inflasi 0,02%

Jakarta, 07/05/2014 MoF (Fiscal) News - Kebijakan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk industri dan rumah tangga di atas 6.600 watt disinyalir tidak akan berkontribusi besar terhadap inflasi ke depan. Bahkan, diperkirakan menyumbang inflasi hanya sebesar 0,02 persen.

Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Yunita Rusanti mengatakan, dampak terhadap inflasi dari kenaikan TTL ini bisa sebesar 0,02 persen bahkan bisa lebih rendah lagi, jika kebijakan tersebut dilakukan secara bertahap. Di samping itu, jika melihat kenaikan dari TTL rumah tangga, dampaknya tidak terlalu besar karena jumlah rumah tangga tersebut tidak besar.

 “Tapi dampaknya ke inflasi ini tidak akan langsung terasa di bulan Mei, paling tidak ada lag karena pembayaran kan baru dilakukan setelah pemakaian,” terang dia.

Lebih lanjut Yunita mengatakan, yang patut diwaspadai adalah dampak kenaikan dari industri yang membebankan ke harga produk hasil industri tetapi lag time nya membutuhkan tiga sampai empat bulan ke depan. “Pemerintah dapat meredam dampak TTL ini dengan menjaga suplai,” urainya.

Seperti diketahui, pemerintah dan DPR menyepakati kenaikan tarif listrik untuk empat golongan konsumen non subsidi setiap bulan sekali mulai Mei 2014. Keempat golongan tersebut adalah rumah tangga besar (R3) dengan daya 6.600 VA ke atas, bisnis menengah (B2) dengan daya 6.600 VA sampai 200 kVA, bisnis besar (B3) dengan daya di atas 200 kVA. Golongan B2 dan B3 antara lain mal, hotel, perkantoran, dan apartemen.

Selain itu, kenaikan tarif listrik juga diberlakukan untuk kantor pemerintah sedang (P1) dengan daya 6.600 hingga 200.000 VA. Pada 2013, pemerintah telah menaikkan tarif listrik rata-rata 15 persen. Seluruh golongan pelanggan listrik mengalami kenaikan tarif, kecuali 450 VA dan 900 VA. (ans)