Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan capaian kinerja APBN 2017 dalam acara Konferensi Pers di aula Djuanda kantor pusat Kemenkeu (02/01)

Kinerja APBN 2017 Lebih Baik dari Tren Tiga Tahun Terakhir

Jakarta, 02/01/2017 Kemenkeu – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa di tahun 2017 realisasi penerimaan negara, belanja dan defisit anggaran berkinerja jauh lebih baik sejak tahun 2014 atau tiga tahun terakhir. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers mengenai capaian kinerja APBN 2017 di Mezzanine, gedung Juanda 1 Kementerian Keuangan pada Selasa, (02/01).

“Realisasi penerimaan negara, belanja dan juga defisit jauh lebih baik dibandingkan dengan tren tiga tahun terakhir,” ungkapnya.

Ia merinci dari sisi penerimaan pajak sebesar Rp1.339,8 triliun, bea cukai sebesar Rp192,3 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 118,5% dari APBN-P ketiganya pertama kali melampaui capaian dari tiga tahun sebelumnya.

“Dari sisi penerimaan negara, pajak mencapai penerimaan sebesar Rp1.339,8 triliun, di atas 91%, ini pertama kali dibandingkan dengan dua tahun terakhir yang selalu hanya mencapai 83%. Bea cukai Rp192,3 triliun atau 101,7%, mencapai lebih dari 100%. Ini juga pertama kali dibanding tiga tahun berturut-turut yang tidak pernah mencapai target. PNBP sebesar 118,5% dari APBN-P, pertama kali sejak jatuhnya (harga) komoditas di tahun 2014,” jelasnya.

Lebih lanjut, Menkeu menyatakan tingkat serapan belanja negara tahun 2017 baik belanja modal maupun belanja barang rata-rata di atas 90%, bahkan  belanja sosial terserap 100%.

“Dari sisi belanja belanja negara mencapai Rp2001,6 triliun. Ini adalah 93,8% dari total belanja APBN 2017. Yang positif adalah belanja modal yang mencapai 92,8% dibandingkan tahun 2016 yang hanya terealisir 82%. Tahun 2015 hanya 85,2%. Jadi, penyerapan dan eksekusi belanja tahun 2017 jauh lebih baik. Belanja barang meningkat realisasinya mencapai 96,8%, kalau dibandingkan tahun 2016, belanja barang hanya terserap 85,3%. Tahun 2015 hanya 89,8%. Jadi, penyerapan 2015-2016 di bawah 90%. Tahun 2017 belanja sosial mencapai 100%. Belanja pemerintah pusat Rp1.259,6 triliun atau 92,% dari APBN-P,” jelasnya.

Menkeu juga mengatakan dari sisi defisit, pengelolaan APBN tahun 2017 cukup baik di angka 2,57% lebih rendah dari target APBN-P sebesar 2,92% dan rasio utang di bawah 30%.

“Defisit APBN tahun 2017 hanya sebesar 2,57%. Ini di bawah range 2,6 bahkan di APBN-P tercantum 2,92%. Jumlah keseimbangan primer adalah Rp129,3 triliun jauh lebih kecil dibanding APBN-P sebesar 178 triliun. Rasio utang kita tetap terkendali di bawah 30%. Dengan demikian, APBN kita masih memiliki daya dorong namun kesehatan dan sustainabilitasnya tetap terjaga dengan baik,” pungkasnya. (nr/rsa)