Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Kondisi Ekonomi Pulih, Menkeu Ingatkan Jangan Berpuas Diri

Jakarta 11/03/2014, MoF (Fiscal) News – Menteri Keuangan (Menkeu) M. Chatib Basri menilai, Indonesia merupakan negara yang paling cepat merespons kondisi anjloknya pasar keuangan global dengan mengeluarkan kebijakan yang tepat.


Hal ini berbeda jika dibandingkan negara yang masuk dalam lima negara rentan (fragile five) lainnya, yakni Brazil, India, Afrika Selatan, dan Turki. “Indonesia dianggap negara paling cepat merespons dengan kebijakan, seperti menaikan harga BBM (bahan bakar minyak) di Juni 2013, sehingga investor percara diri terhadap Indonesia. Sedangkan Turki baru menaikkan interest rate-nya sampai 400 basis points di bulan lalu,” kata Menkeu pada Senin (10/3).


Selain itu, lanjutnya, penguatan nilai tukar rupiah pada beberapa pekan ini juga mendapat banyak respons positif di pasar keuangan maupun pasar modal. Hal ini merupakan buah dari penerapan kebijakan ekonomi yang dirilis Pemerintah beberapa bulan terkahir. “Mereka lihat indikator di current account deficit dan policy-nya dalam empat bulan terakhir ini positif. Indonesia dianggap negara yang paling cepat responsnya,” ujar Menkeu.


Namun demikian, ia mengingatkan agar Indonesia tidak berpuas diri, meskipun kepercayaan investor terhadap Indonesia mulai meningkat. Aliran dana asing yang masuk pun terus bertambah. “Investor bullish di Indonesia, tapi jangan cepat puas, karena mesti hati-hati. Walaupun kondisinya lebih baik, jangan ngasih harapan berlebihan,” katanya.


Menkeu mengingatkan bahwa dengan kondisi yang seperti ini bukan berarti pekerjaan pemerintah telah usai. Pemerintah, lanjut Menkeu, justru wajib melanjutkan reformasi yang sudah berjalan untuk terus menjaga stabilitas perekonomian di tanah air. "Kadang kalau ada yang bagus, kita langsung merasa semua sudah beres. Padahal masih banyak hal yang mesti dibereskan. Kondisi sekarang memang bagus, tapi tetap harus waspada dan banyak reformasi yang harus dilanjutkan. Bukan berarti berhenti," tukasnya.(nic)