Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Lagi, Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Bibit Lobster

Jakarta, 30/10/2015 Kemenkeu - Setelah Mataram, kini giliran petugas Bea dan Cukai Bandung yang berhasil menggagalkan penyelundupan 30 ribu bibit lobster melalui Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Bibit-bibit lobster tersebut diperkirakan bernilai Rp1 miliar.

Dalam konferensi pers pada Rabu (28/10),  Direktur Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Harry Mulya mengungkapkan, penggagalan upaya penyelundupan tersebut dilakukan pada Jumat (16/10). Pelakunya yaitu tiga calon penumpang pesawat Silk Air MI 195 rute Bandung-Singapura.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, puluhan ribu bibit lobster tersebut dikemas dalam 176 kantong plastik, lalu dimasukkan ke dalam enam koper ukuran besar yang dibawa oleh para pelaku. "Penyelundupan bibit lobster ini menggunakan modus dengan menyamarkannya sebagai barang bawaan penumpang dan dimasukkan ke dalam koper tanpa menyerahkan pemberitahuan pabean," ungkapnya.

Seperti diketahui, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/PERMEN/KP/2015 tentang Penangkapan Lobster, Kepiting, dan Rajungan, bibit lobster termasuk ke dalam jenis hasil laut yang dilarang penangkapannya. "Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan ini dikeluarkan untuk mencegah eksploitasi berlebihan di laut yang bisa menyebabkan makin menurunnya tangkapan nelayan," jelasnya.

Sebagai tindak lanjut, petugas kemudian mengamankan ketiga tersangka berinisial LYC, MIB, dan DA. Ketiganya merupakan warga Kota Bandung, dan saat ini sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Kepala Kanwil DJBC Jawa Barat Marisi Zainuddin Sitohang, ketiga tersangka mengaku sebagai kurir dengan upah Rp1 juta untuk setiap koper yang dibawa. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para tersangka dijerat dengan pasal 102 huruf A Undang-Undang nomor 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan, dengan ancaman pidana paling singkat 1 tahun dan paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp5 miliar.

Sementara itu, menurut Kepala Stasiun Karantina Perikanan Kelas II Bandung Iromo, seluruh bibit lobster diduga berasal dari kawasan Palabuhanratu. Oleh karena itu, seluruh bibit lobster yang berhasil diamankan langsung dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di Pelabuhanratu pada 17 Oktober 2015.(nv)