Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Larangan Ekspor Mineral, Kenaikan Suku Bunga LPS dan Cadangan Devisa Diyakini Sebagai Penyebab Penguatan Rupiah


 
Jakarta, 13/01/2014 MoF (Fiscal) News – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (13/1) dibuka menguat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdasarkan data Bloomberg dibuka pada level Rp12.140 per dolar AS. Posisi tersebut lebih besar 22 poin dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang berada pada level Rp12.162 per dolar AS.  


Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, positifnya laju rupiah didukung suku bunga acuan BI (BI Rate) di level 7,5 persen dan kenaikan suku bunga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 25 basis points serta optimisme kenaikan cadangan devisa di negara-negara ASEAN. Bahkan, cadangan devisa Indonesia termasuk yang mengalami kenaikan dengan posisi per akhir Desember 2013 senilai 99,39 miliar dolar AS, dimana bulan sebelumnya sebesar 96,96 miliar dolar AS.


Sementara itu, Senior Strategist Credit Agricole CIB di Hong Kong Dariusz Kowalczyk mengatakan bahwa penguatan rupiah disebabkan oleh diberlakukannya pelarangan ekspor mineral. Penguatan rupiah terjadi setelah pemerintah memberlakukan larangan ekspor mineral tambang mentah yang mulai berlaku pada 12 Januari 2014 lalu. "Rupiah sepertinya menjadi pemenang utama dengan diberlakukannya pelarangan ekspor mineral," papar Kowalczyk.


Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (13/1), rupiah mencatatkan penguatan terbesar dalam enam bulan terakhir. Pada pukul 09.55 WIB rupiah berada dilevel Rp12.033 per dolar AS. Level tersebut merupakan penguatan terbesar sejak 2 Desember 2013 lalu. Sementara itu, nilai kontrak rupiah untuk pengantaran satu bulan ke depan di pasar non deliverable forwards menguat 0,6 persen menjadi 11,853 per dolar AS. Ini merupakan level tertinggi sejak 3 Desember 2013 lalu.(nic)