Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Lebih Serius Dengan BBG dan Biofuel

Jakarta, 18/11/2013 MoF (Fiscal) News – Wakil Menteri Keuangan II (Wamenkeu II) Bambang P.S. Brodjonegoro mengungkapkan bahwa langkah konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) dan Biofuel sudah harus dilakukan. Kondisi yang terjadi saat ini sudah membuktikan langkah tersebut sudah harus dilakukan secara serius.


“Kita memiliki bahan bakar biofuel dan gas. Konversi BBG dan Biofuel itu sudah direncanakan sebelumnya, dan waktu yang tepat dilakukan sekarang. Makanya harus serius,” ungkap Wamenkeu II dalam acara seminar di Jakarta, Senin(18/11).


Ia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terbilang cukup tinggi beberapa tahun terakhir, menjadi alasan sulitnya mengurangi impor bahan bakar. Sementara itu, sumur-sumur minyak yang ada di Indonesia juga sudah terbilang tua sehingga tidak dapat menghasilkan minyak dalam jumlah yang melimpah. Oleh karenanya, pilihan yang tersedia cuma beralih ke bahan bakar selain minyak. "Mengurangi impor BBM itu sulit karena pertumbuhan tinggi, sementara produksi itu tidak cukup karena sumur tua dan sulit menghasilkan minyak,” kata Wamenkeu II.


Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor minyak dan gas (migas) Indonesia pada bulan Agustus nilainya US$3,672 miliar, sementara pada bulan September 2013 mencapai US$3,669 miliar. Untuk nilai impor minyak mentah Indonesia pada bulan September mencapai US$1,196 miliar, naik dari Agustus 2013 sebesar US$990 juta. (nic)