Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Majalah Kementerian Keuangan Raih Gold Winner dalam Ajang InMa

Surabaya, 08/02/2019 Kemenkeu - Media Keuangan sebagai majalah internal Kementerian Keuangan meraih penghargaan Gold Winner dalam ajang The 8th Indonesia Inhouse Magazine Awards (InMA) tahun 2019 pada Kamis (07/02) di Surabaya. Penghargaan tersebut masing-masing diberikan untuk InMA kategori Kementerian dan Lembaga Pemerintah Terbaik serta kategori e-magazine Kementerian dan Lembaga Pemerintahan, Perusahaan Swasta Nasional dan Mutinasional Terbaik.

Selain itu, majalah internal unit-unit lain di lingkungan Kementerian Keuangan juga mendapat penghargaan antara lain Intax dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang mendapatkan Gold Winner, Majalah Edukasi Keuangan dari Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Auditoria dari Inspektorat Jenderal (Itjen), serta Scenes dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang masing-masing mendapatkan silver.

Mengusung tema besar “Kreativitas Tanpa Batas di Era Disrupsi”, pagelaran InMa yang menjadi rangkaian Awarding Night Serikat Perusahaan Pers (SPS) dan Satu Dekade Indonesia Print Media Award (IPMA) dalam Hari Pers Nasional yang berlangsung di Surabaya pada tanggal 7–9 Februari 2019 merupakan penghargaan paling bergengsi bagi industri media cetak nasional termasuk majalah internal. Penilaian dilakukan oleh dewan juri dari berbagai aspek yaitu aspek komunikasi massa, foto jurnalistik, komunikasi dan branding, kehumasan, serta ide kreatif. 

Penghargaan diserahkan langsung oleh Ahmad Djauhar Wakil Ketua Dewan Pers (SPS) Indonesia kepada Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (Kepala Biro KLI) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Nufransa Wira Sakti. Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

Dalam sambutannya, Rudiantara menyampaikan bahwa meski tren pemberitaan sudah banyak bergeser ke media digital dan media sosial, namun media cetak masih memiliki banyak peluang. Terlebih lagi, dalam proses penyusunannya media cetak cenderung lebih mendalam dan meng-cover both sides. 

“Industri pers kita tak akan mati terutama media cetak, tak akan mati karena masih ada segmen yang informasinya membutuhkan medium cetak,” ujar Rudiantara. (ip/hpy/nr)