Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Manfaatkan Utang Untuk Percepat Pembangunan

 


Jakarta, 25/11/2011 MoF (Fiscal) News - Krisis ekonomi yang terjadi di negara-negara maju sebagian besar karena default dan ketidakmampuan membayar utang-utang. Namun sebenarnya, utang bagi suatu negara dapat bermanfaat untuk mempercepat pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat. Demikian disampaikan Staf Ahli Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional Permana Agung Daradjatun saat ditemui di Kantornya Gedung Juanda I Kementerian Keuangan, Jakarta pada Jumat (25/11).

“Di literatur ada bahwa suatu negara itu diperbolehkan melakukan pinjaman-pinjaman utang dan sebagainya, sepanjang itu digunakan untuk government project yang punya implikasi kepada kemakmuran rakyat sebesar-besarnya,” jelas Permana. Namun, pengelolaan utang sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, agar suatu negara tidak terjadi default yang menyebabkan krisis ekonomi karena tidak dapat membayar utang.

Di Indonesia sendiri, seperti yang sudah dipublikasikan Kemenkeu, total utang pemerintah Indonesia hingga september 2011 mencapai Rp1.754,92 triliun. Dalam sebulan, jumlah utang itu naik Rp10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp1.744,34 triliun. Pada periode Januari hingga November 2011, pemerintah telah menyicil utang sebesar Rp79,36 triliun. Ini berarti 74,5% dari target pembayaran utang di 2011 yang sebesar Rp106,58 triliun telah terbayar.

Permana menyampaikan, posisi utang Indonesia saat ini masih aman, karena Indonesia selalu melihat angka relatif utang terhadap Gross Domestic Product (debt to GDP). “Ya, memang kita masih safe ya, karena kan selalu dilihat angka relatif to GDP kita yang menurun terus. Tapi dari segi jumlah real itu kan naik,” tukasnya. Permana berharap, Indonesia tidak hanya puas dengan prosentase utang yang menurun tersebut, namun juga masih perlu mewaspadai hal-hal yang akan terjadi. “Tapi kita tetep hati-hati lah, pengalaman negara-negara lain yang terjadi krisis hanya karena tidak bisa bayar utang, jadi jangan sampai kita tidak belajar. Kami yakinlah Indonesia siap mengantisipasi, semua sudah dipersipkan protokol-protokol itu,” pungkasnya. (sgd)