Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Melemahnya Nilai Tukar Berpengaruh Pada APBN

Jakarta, 29/07/2013 MoF (Fiscal) News – Pemerintah akui pelemahan nilai tukar rupiah bisa berdampak pada bertambahnya beban defisit anggaran. Namun, depresiasi nilai tukar juga memberikan keuntungan adanya penambahan penerimaan dari sektor minyak dan gas (migas) maupun tambang, sehingga bisa mengompensasi beban tambahan defisit anggaran.

“Setiap ada pelemahan 100 rupiah itu akan menambah defisit, tapi kita harapkan itu bisa terkompensasi dengan lain-lain lah,”ujar Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang P.S. Brodjonegoro di Jakarta, Jumat (26/7).

Menurutnya, bertambahnya defisit ini berasal dari beban pembayaran bunga utang dan subsidi yang bertambah akibat rupiah yang terdepresiasi. Kendati demikian, ada tambahan penerimaan negara dari sisi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) minyak dan gas (migas) maupun tambang. “Tapi kita sudah hitung lah di satu sisi ada tambahan pengeluaran, di sisi lain ada tambahan penerimaan,” jelasnya.

Ia mengakui, beban terhadap anggaran tersebut tidak terlalu berat karena melambungnya nilai tukar rupiah ke level 10.000 per dolar AS baru terjadi beberapa waktu belakangan ini, sedangkan pernah juga terapresiasi di level 9.500-9.600 per dolar AS pada awal tahun. “Jadi kita belum bisa melihat persisnya beban dari perbedaan yang akan ditanggung sampai akhir tahun karena kita kan pakai rata-rata,” pungkasnya. (ans)