Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Membangun Kembali Sektor Industri Indonesia

Malang, 03/11/2015 Kemenkeu - Kondisi ekonomi makro Indonesia yang relatif baik akhir-akhir ini, tidak lantas mengurangi kewaspadaan pemerintah. Menurut Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro, kondisi perekonomian Indonesia tetap perlu dicermati dengan seksama dan berkesinambungan, khususnya terkait potensi dampak dari ketidakstabilan dalam perekonomian global. 

“Pemerintah telah menyiapkan dan menerapkan kebijakan jangka panjang dan strategi jangka pendek untuk mengantisipasi berbagai tantangan yang ada,” kata Menkeu dalam keynote speech-nya di acara Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah di Universitas Brawijaya, Malang, Selasa (3/11).

Untuk strategi jangka panjang, lanjutnya, pemerintah berupaya mengalihkan dan mengoptimalkan sumber pertumbuhan. “Perekonomian Indonesia saat ini masih bergantung kepada sektor komoditas, khususnya sumber daya alam. Mengingat harga komoditas yang terus mengalami penurunan dan ketersediaannya dalam jangka panjang yang semakin menipis, pemerintah saat ini sedang menata kembali perekonomian Indonesia dengan mendukung apa yang dinamakan Resource-Based Manufacturing,” urainya. 

Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Tiongkok juga turut berpengaruh.  Ia menjelaskan bahwa saat ini, terjadi pergeseran sumber pertumbuhan ekonomi di Tiongkok. “Masyarakat Tiongkok terkenal dengan saving yang baik. Ketika pertumbuhan bertumpu pada investasi, kalau saving tinggi, pas ekonomi jalan bagus. Namun, yang terjadi akhir-akhir ini adalah investasi sudah mulai jenuh, sehingga pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat. Maka pemerintah China sedang mendorong konsumsi. Dan itu terjadi, berhasil. Sekarang pertumbuhan ekonomi didorong dengan konsumsinya,” paparnya.

Berkurangnya investasi dan meningkatnya konsumsi di Tiongkok tersebut akan berpengaruh terhadap ekspor di Indonesia. “Dulu, Indonesia banyak mengekspor batu bara ke Tiongkok. Namun, dengan peningkatan pola konsumsi tadi, ekspor tersebut menurun. Maka, pola ekspor dan manufaktur harus didorong supaya barang konsumsi lebih banyak, dan ekspor ke China dialihkan dari batu bara ke barang manufaktur,” katanya.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah tengah berupaya untuk membangun kembali sektor industri Indonesia sebagai penggerak perekonomian. “Saya harap di tahun 2016 kita sudah punya pijakan jelas, dari mana sumber pertumbuhan. Jangan terus-terusan mengandalkan komoditas,” ujarnya. Menurutnya, sektor yang paling potensial adalah manufaktur atau industri yang mengolah pertanian. “Karena harga hasil pertanian sama seperti komoditas, sama-sama fluktuatif. Ketika hasil pertanian diolah lagi, tingkat fluktualitasnya akan menurun. Ini yang saya harapkan,” pungkas Menkeu. (fin)