Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Menkeu: Agar Lebih Kompetitif, Pengusaha Jangan Latah dan Ingin Instan

Jakarta, 24/11/2015 Kemenkeu - Agar ekonomi Indonesia terus berkembang menjadi lebih kompetitif, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menilai, pelaku usaha dalam negeri perlu meninggalkan dua budaya negatif. Kedua budaya tersebut yaitu latah pada tren dan ingin instan dalam meraih kesuksesan.

“Ada dua budaya orang Indonesia yang mungkin kurang cocok untuk mengembangkan ekonomi yang lebih kompetitif; satu latah, dua inginnya instan, jadi kurang bisa menghargai proses,” ungkap Menkeu dalam seminar nasional dan kongres ketiga Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) Pontianak yang digelar pekan lalu.

Menkeu mencontohkan, pada saat harga komoditas sedang tinggi, banyak pengusaha Indonesia kemudian beramai-ramai membuka tambang batu bara, di mana tidak sedikit yang melakukan penambangan ilegal. Setelah harga komoditas turun, banyak pengusaha batu bara yang kemudian gulung tikar, karena tidak adanya konsistensi dalam bisnisnya.

“Ketika harga komoditas tinggi, kemudian batu bara menjadi primadona, praktis semua orang ingin dapat konsesi batu bara, sehingga ujungnya muncul banyak illegal mining untuk batu bara. Kedua, mereka semua ingin kaya secara instan, tidak ingin jadi pengusaha yang tangguh yang bisa bertahan lama, kebanyakan ingin jadi pengusaha-pengusaha instan,” ungkap Menkeu.

Hal inilah, lanjutnya, yang membuat pergerakan pertumbuhan pengusaha Indonesia menjadi lambat, karena terbatasnya jumlah pengusaha yang usahanya berumur panjang. “Itu yang membuat pergerakan pengusaha kita, sejarah wirausaha kita dari tahun 1970-an sampai sekarang, sedikit sekali. Sedikit perusahaan yang benar-benar Indonesia yang umurnya panjang, apalagi yang bisa turun ke generasi berikutnya,” tambahnya.(nv)