Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Menkeu: Jaga Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II 2014

Jakarta, 18/02/2014 MoF (Fiscal) News – Pemerintah jaga defisit transaksi berjalan kuartal II 2014 agar tidak menuju level 4,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) seperti yang terjadi pada kuartal II 2013. Hal ini perlu dilakukan karena siklus tahunan kuartal II memiliki kecenderungan peningkatan impor bahan baku.

"Masalahnya kuartal II tahun lalu defisit 4,4%, itu yang membuat pasar nervous. Jadi kuartal II 2014 ini kecenderungannya naik, tapi mau dijaga tidak ke 4,4% dari PDB. Dari sini market punya kecenderungan, itu namanya animal spirit," ungkap Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, Senin (17/2).

Chatib mengatakan, berdasarkan siklus tahunan, defisit transaksi berjalan cenderung lebih tinggi di kuartal II. Hal ini dipengaruhi impor bahan baku dan modal yang meningkat, sejalan dengan mulai dilakukannya produksi oleh perusahaan.

"Kalau dia produksi, artinya dia investasi. Biasanya awal tahun perusahaan baru ngajuin kredit ke bank. Kreditnya ini baru di-approve sama bank bulan kedua, ketiga, begitu dia dapat kredit, baru dia lakuin investasi. Akibatnya, investment-nya naik. Setelah investment naik, impor naik," jelas Chatib.

Peningkatan impor ini, sambung Chatib, akan mulai menurun di kuartal ke III dan IV, sehingga defisit transaksi berjalan akan mulai turun. Namun demikian, Chatib mengkhawatirkan defisit transaksi berjalan kuartal II tahun lalu yang mencapai 4,4% dari PDB dan membuat pasar nervous. Oleh karena itu, dia akan menjaga defisit transaksi berjalan kuartal II tahun ini agar tidak mencapai 4,4% dari PDB. "Sekarang euphoric, begitu transaksi berjalan  membaik, dalam 2 hari rupiah menguat Rp12.200 per dollar AS, bahkan  siang ini Rp 11.600 per dollar AS. Ini BI tentu harus jaga supaya volatility jangan terlalu drastis," ungkapnya.

Di sisi lain, Chatib mengakui penguatan rupiah bukan hanya karena sentimen positif data ekonomi makro domestik, tetapi juga adanya pelemahan dollar yang terjadi hampir di semua emerging market.

"Sekarang menguat (rupiah) penyebabnya karena sentimen positif dari angkaWallstreet 'Indonesia shines amid the global rally.' Saya tidak mau klaim sepenuhnya ini dari Neraca pembayaran,  harus diakui yang menguat bukan cuma rupiah, lira, real, rand juga menguat, artinya terjadi penguatan di emerging market. Makanya, Financial Times bilang emerging market attractive enough untuk masuk lagi. Mereka lihat ada perbaikan, tapi rupiah menguatannya paling tajam, ini mesti jaga," tutur Chatib. (ans)