Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Menkeu Paparkan Strategi Pembiayaan Risiko Bencana Pada AM2018Bali

Nusa Dua, Bali 10/10/18 Kemenkeu - Pada acara High Level Dialogue on Disaster Risk Financing and Insurance (DRFI) Annual Meetings IMF-WBG 2018 (AM2018Bali), Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan betapa seringnya pertanyaan mengenai dana yang disediakan oleh pemerintah terkait penanganan bencana muncul dimasyarakat.

Menyadari tingginya risiko pendanaan bencana jika hanya bergantung pada APBN, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berusaha menyiapkan solusi dan inovasi keuangan agar mampu memberikan alternatif pendanaan dalam pembiayaan bencana.

“Dalam menyusun strategi ini, kami melakukan diskusi dan konsultasi yang intensif dengan pemangku kepentingan terkait antara lain identifikasi respon pemerintah saat ini, identifikasi permasalahan dalam pembiayaan risiko bencana, penetapan prioritas kebijakan dan penyusunan strategi pembiayaan,” tukas Menkeu di BICC, Rabu (10/10).

Ia mengatakan terdapat prinsip mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembiayaan risiko bencana ini. Pertama, kecepatan waktu penyaluran dana dan ketersediaan dana pada setiap fase bencana. Kedua, risiko tiap bencana harus dipisah-pisah untuk mengetahui masing-masing karakter kebutuhan dananya, sehingga pemerintah mengerti bagaimana mengelola pembiayaan untuk masing-masing tahapan.

Ketiga, pemerintah juga harus tahu cara efisien agar dana penanganan bencana dapat tersalurkan dengan tepat waktu. Terakhir, data dan informasi mengenai bencana harus tersedia dengan baik dan akurat. Hal ini menurutnya akan dapat membantu para pengambil kebijakan untuk menghasilkan keputusan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim juga turut mengutarakan niat baiknya untuk membantu pemerintah Indonesia.

“Kami, WBG, berada disini untuk membantu Ibu SMI dan Bapak Basuki dalam meraih target yang sangat ambisius terkait DRFI. Kami dapat membantu dengan berbagi pengalaman dari 60 negara lain. Kedua, kami bisa menyiapkan berbagai alternatif instrument dengan tingkat likuiditas tinggi agar dana bisa tersedia dengan cepat ketika dibutuhkan,” jelas Presiden Kim.

Lebih lanjut, ia juga menyatakan walaupun kondisi geografis Indonesia berada di jalur ring of fire sehingga membuat Indonesia menjadi sebuah negara yang rentan terhadap bencana. Namun demikian, menurut Presiden Bank Dunia, Indonesia adalah negara yang sangat kuat dalam menghadapi berbagai macam tekanan. Indonesia pun menjadi negara terdepan terkait penanganan bencana alam. (mr/rsa)