Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjadi pembicara dalam kuliah umum di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (23/08)

Menkeu: PR Indonesia, Indeks Pembangunan Manusia

Yogyakarta, 23/08/2017 Kemenkeu - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjadi pembicara dalam kuliah umum di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada Rabu (23/08). Ia mengatakan Indonesia masih memiki beberapa pekerjaan rumah yang harus diatasi meskipun sudah memiliki modal dasar menjadi negara maju, yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih di angka 70.

“Sumber daya alam, posisi geografis, demografi dan institusi kita adalah modal dasar kita namun dia belum bisa mendekatkan tujuan ke cita-cita Indonesia yang adil dan makmur. Kita masih punya beberapa PR yang harus kita kerjakan, yaitu 257 juta manusia-nya dengan demografi muda. Indeks Pembangunan Manusia kita memang membaik dari 70 menjadi di atas 70 which is good tapi lihat tetangga kita dapat 92,5 that is Singapore, Brunei 86, Malaysia 78. Jadi, kita good but we are still can be better,” jelasnya. 

Ia menambahkan, indikator masih rendahnya IPM bisa dilihat dari usia harapan hidup manusia Indonesia yang rata-rata masih 70,9 tahun. “Indeks Pembangunan Manusia dapat diukur dari usia harapan hidup. Indonesia harapan hidupnya sekarang 70,9 tahun. Usia harapan hidup adalah sebenarnya indikator proxi negaranya memiliki situasi yang cukup makmur dan aman,” terangnya. 

Selanjutnya di bidang pendidikan, ia menjelaskan bahwa durasi pendidikan yang rata-rata hanya delapan tahun juga masih belum cukup untuk menjadikan manusia Indonesia menjadi unggul.  “Overall Anda yang ada di sini sudah sekolah lebih dari 16 tahun. What a luxury if you compare rata-rata anak-anak Indonesia yang cuma 8 tahun,” ungkapnya.

Begitu pula tingkat literasi Indonesia yang masih jauh tertinggal di posisi 62 dari 69 negara. “Indonesia berada way below untuk tingkat (literasi) membaca. PISA (Programme for International Student Assesment) score kita berada di (posisi) 62 diantara 69 negara-negara OECD,” ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa dalam menuju Indonesia yang adil dan makmur, tidak cukup hanya berada di posisi sebagai negara kategori menengah kebawah. “Indonesia ada di middle-lower bukan middle-upper. Indonesia tidak jelek-jelek amat. Tapi tergantung ambisi menuju adil makmur, menurut saya, ini tidak good enough,” paparnya. 

Hal yang penting selanjutnya menurut Menkeu adalah kemiskinan. Menurutnya, koefisien Gini yang sudah mulai menurun harus dapat menurunkan kemiskinan lebih cepat, memajukan sumber daya manusia dan menciptakan pemerataan. 

“Gini koefisien kita mulai menurun lagi dari 0.4 sekarang jadi 0,38. Ini adalah achievement sekaligus tantangan. Pertumbuhan ekonomi kita harus bisa menurunkan kemiskinan lebih cepat, memajukan human capital kita lebih baik dan menciptakan pemerataan yang lebih cepat juga. Kenapa penting? Karena Indonesia secara geografis besar, bukan Jakarta sentris namun Indonesia sentris,” jelasnya.

 

Ia juga menyoroti IPM melalui perbaikan gizi balita agar menjadi manusia yang sehat, terhindar dari stunting yang dialami sekitar 30% masyarakat Indonesia. "Tingkat gizi balita kita penting agar menjadi manusia sehat pada seribu hari pertama.  Kalau dia kurang gizi pada seribu hari pertama, otaknya tidak menjadi gemuk. Indonesia memiliki lebih dari 30% balita yang kurang gizi (yang berakibat) stunting kontet atau kerdil. Ini adalah tantangan bagi investasi (SDM) Indonesia," pungkasnya. (nr/rsa)