Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memberikan sambutan dalam acara Rakernas Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) dan Silaturrahim Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) di Hotel Savoy Homann Bandung (13/09)

Muhammadiyah Harus Siap Hadapi Perubahan

Bandung, 14/09/2017 Kemenkeu - Sebagaimana pemerintah selalu berusaha untuk menghadapi perubahan, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati berpesan agar Muhammadiyah sebagai institusi juga harus adaptif dan siap menghadapi perubahan. Pada acara Rakernas Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) dan Silaturrahim Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM), Menkeu menyampaikan bahwa perekonomian sebuah negara sangat tergantung pada kondisi perekonomian global. Oleh karena itu, Muhammadiyah juga harus memahami resiko yang harus dihadapi akibat perubahan kondisi global.

"Mengapa Jaringan Saudagar harus memahami itu? Karena kegiatan ekonomi Anda semua sangat berpengaruh pada lingkungan dimana kita beroperasi. Salah satunya kondisi geopolitik, seperti kondisi yang terjadi di Korea Utara dan Korea Selatan," ujarnya di Hotel Savoy Homann Bandung, Rabu (13/09).

Dengan semakin majunya teknologi, muncul tantangan mengenai jenis pekerjaan baru apa yang akan diciptakan dan dibutuhkan di masa depan serta menyiapkan skill dan pola pikir baru agar generasi mendatang siap menghadapi tantangan tersebut.

"Jangan lawan arus (perubahan) tetapi tunggangin arus itu. Pemerintah melihat dunia memang sedang berubah, kita kooperasi tetapi kita juga berkompetisi dengan negara-negara lain. Negara-negara yang mampu membangun platform untuk bisa menyiapkan ekonominya, kolaborasi tetapi kompetisi itu adalah negara yang bisa maju," jelasnya.

Dijelaskan oleh Menkeu, untuk mengembangkan usaha para saudagar harus mampu mengenali tingkah laku konsumen. Saat ini pengusaha yang kaya di dunia bukan lagi yang bergerak di dunia pengolahan sumber daya alam tetapi yang bergerak di dunia teknologi.

"Perhatikan perilaku generasi milenial. Generasi milenial punya daya beli tapi pola konsumsi berubah. Konsep mengenai mobilitas itu luar biasa. Oleh karena itu, pemerintah berinvestasi di bidang infrastuktur itu karena jaman sudah meminta," kata Menkeu.

Menurutnya, jika berbicara dalam konteks revolusi industri, dunia saat ini berada pada tahap ke-4. Revolusi industri pertama saat ditemukannya listrik, kedua saat ditemukannya otomotif, ketiga adalah ditemukannya komputer, dan keempat adalah massive teknologi. (ma/nr)