Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Pengamat: Inflasi Juli Diperkirakan Lebih Rendah dari Perkiraan

Jakarta, 01/08/2013 MoF (Fiscal) News - Kepala Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII) Juniman memproyeksikan laju inflasi pada Bulan Juli akan mencapai 2,47 persen atau lebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia sebelumnya yang sebesar 2,87 persen. Dengan demikian, angka inflasi secara year on year berada di level 8,04 persen.

"Pemicu inflasi bulan Juli adalah kombinasi dari dampak full kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) dan faktor impact musiman puasa maupun persiapan lebaran, sehingga terjadi lonjakan harga pangan dan komoditas serta tarif angkutan, baik darat, udara, maupun laut," ujar Juniman di Jakarta, Rabu (31/7).

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan cukup tinggi antara lain bawang merah dan bawang putih, dengan rata-rata kenaikan sebesar 40-60 persen, cabai rawit dengan rata-rata kenaikan sebesar 20- 40 persen. Selain itu, komoditas pangan lainnya yang mengalami kenaikan harga adalah beras, daging ayam, telur, dan daging sapi. Meskipun telah dilakukan impor khusus untuk daging sapi, kenaikan harganya tetap tidak dapat dihindari. "Harga daging akan kembali mengalami peningkatan menjelang lebaran nanti," ungkap Juniman.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada produk sayuran dan buah-buahan serta tarif transportasi yang mengalami peningkatan rata-rata 20-30 persen, baik untuk darat, laut, maupun udara. “Peningkatan harga bahan bangunan juga terjadi, sehingga menyebabkan harga perumahan meningkat, meskipun peningkatan besar akan mulai terjadi pada bulan depan. Biaya rumah sakit juga mengalami peningkatan yang cukup besar termasuk biaya dokter,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk laju pertumbuhan ekspor pada Bulan Juni, Juniman menilai secara year on year masih mengalami peningkatan, meskipun secara month to month mengalami penurunan. Pada Bulan Mei lalu, nilai ekspor Indonesia mencapai 16,07 miliar dolar AS, sedangkan pada Bulan Juni sebesar 15,8 miliar dolar AS. "Penurunan ini karena adanya perlambatan demand global dan harga komoditas global yang menurun, ditambah lagi pertumbuhan ekonomi China dan India yang mengalami penurunan," jelasnya.

Sementara, pertumbuhan impor mengalami kenaikan sejalan dengan  peningkatan penjualan mobil di dalam negeri. Impor hortikultura dan daging juga mengalami peningkatan, meskipun untuk daging puncaknya terjadi pada Bulan Juli. "Dengan demikian, trade balance (neraca perdagangan) Bulan Juni masih mencatat defisit  USD 0,91 miliar," pungkasnya.(ans)