Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Pengembangan Riset Sains Halal dan Inovasi Produk Halal Dukung Indonesia Menjadi Pusat Produsen Produk Halal Dunia

Jakarta, 22/09/2021 Kemenkeu – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) bersama Bank Indonesia menyelenggarakan Webinar Nasional Riset Sains Halal & Inovasi Produk Halal Nasional pada Selasa (21/09). Acara ini merupakan Road to Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-8 tahun 2021. Adapun acara puncak ISEF 2021 akan dilaksanakan pada 25-30 Oktober 2021 mendatang secara daring dan luring.

Agenda Riset Sains Halal & Inovasi Produk Halal Nasional merupakan sebuah medium sarana literasi, komunikasi, dan koordinasi dalam rangka meningkatkan pengembangan riset dan inovasi sains halal yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing. Hal ini tentunya untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai pusat produsen produk halal dunia.

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal Suminto, mewakili Menteri Keuangan, menyampaikan bahwa untuk mendukung visi Indonesia yang berdaya saing dan berdaulat berbasis Iptek, pemerintah telah menyusun Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) tahun 2017-2045. Hal tersebut dilakukan untuk menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang yang sejalan dengan arah perencanaan pembangunan nasional terkait ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bidang prioritas yang ditetapkan dalam RIRN 2017-2045 yaitu pangan-pertanian, energi, kesehatan-obat, transportasi, teknologi informasi, pertahanan, material maju, kemaritiman, kebencanaan dan sosial-humaniora.

"Fokus bidang prioritas dalam RIRN 2017-2045 tersebut tentunya juga memberikan peluang terbuka bagi pengembangan riset di bidang ekonomi syariah untuk ikut serta dalam arus besar penelitian nasional," ujar Suminto.

Lebih lanjut, Ventje Rahardjo selaku Direktur Eksekutif KNEKS menjelaskan Indonesia telah memiliki berbagai lembaga atau pusat-pusat riset strategis yang berkontribusi pada pengembangan ekonomi syariah nasional, baik dalam bentuk riset ilmiah maupun riset terapan yang dikomersialisasi.

Lembaga atau pusat-pusat riset tersebut berperan aktif serta berada di bawah koordinasi Kementerian/Lembaga, universitas, Lembaga Swadaya Masyarakat (Non-Governmental Organization), maupun pelaku industri.

"Hingga saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 9 pusat riset di bidang sains halal, lebih dari 58 program/pusat studi ekonomi syariah dan sains halal yang aktif dalam kegiatan riset dan inovasi, serta lebih dari 1.084 peneliti dengan spesialisasi ekonomi syariah serta industri produk halal," kata Ventje dalam rilisnya.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Handoko menjelaskan dukungan riset sangat diperlukan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

"Saya telah mendapatkan arahan dari Bapak Wakil Presiden RI, dimana BRIN dapat berperan strategis terkait Riset dan Inovasi Produk Halal," kata Handoko.

Menindaklanjuti arahan Bapak Wakil Presiden RI, BRIN telah aktif dalam pengembangan R&D bahan substitusi non-halal dan autentikasi halal. Program ini perlu mempertimbangkan standar nilai halal yang baku, hingga mencakup aspek molekular.

Komitmen untuk mendukung penuh ekosistem Syariah Indonesia, khususnya di sisi R&D, dilakukan BRIN melalui koordinasi yang kuat dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN). BRIN juga telah melakukan investasi menggunakan SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) dalam mendirikan Pusat Sains dan Teknologi Pangan di Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta, dimana Pusat Halal dialokasikan di pusat tersebut.

“Adapun bentuk dukungan konkret riset ekonomi Syariah, yaitu mencakup: (1) bagaimana menciptakan atau mengubah proses bisnis dalam rangka meningkatkan daya tarik dari produk-produk ekonomi dan keuangan Syariah; (2) bagaimana riset dapat mengembangkan teknologi untuk memastikan kehalalan produk dan standar nilai halal; dan 3) pengembangan Sumber Daya Manusia yang kompeten dalam melakukan kegiatan R&D dan inovasi,” ujar Handoko.

Di sisi lain, Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia Prijono berharap kegiatan ini dapat memberikan informasi dan menghasilkan masukan, serta rekomendasi dalam mengembangkan produk-produk halal Indonesia.

"Harapan ke depan, peran ekonomi syariah akan semakin signifikan memberikan kontribusi pemulihan ekonomi nasional," ujar Prijono. (KNEKS/dep/mr)