Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Pengetatan Kebijakan Moneter Akan Perkecil Defisit Transaksi Berjalan



Jakarta, 21/01/2014 MoF (Fiscal) News – Pengetatan kebijakan moneter diperkirakan masih akan berlangsung tahun ini, dengan akan dinaikkannya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) pada semester I-2014 sebesar 50 basis points (bps). Hal tersebut dilakukan untuk memperkecil defisit transaksi berjalan dan penguatan nilai tukar rupiah. Demikian disampaikan Kepala Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan di Jakarta, Senin (20/1).


Menurutnya, pengetatan kebijakan moneter akan banyak dilakukan oleh negara-negara yang memiliki defisit transaksi berjalan cukup tinggi. Pihaknya mencontohkan, Bank Sentral Brazil telah menaikkan suku bunga acuannya ke level 10 persen, bahkan diperkirakan akan meningkat menjadi 10,5 persen. Hal yang tidak jauh berbeda dilakukan Bank Sentral India yang telah menaikkan suku bunga acuannya ke level 7,75 persen, dan diperkirakan akan naik lagi ke level 8 persen. “Memang negara-negara yang mempunyai defisit transaksi berjalannya besar seperti Brazil, India,Turki, maupun Afrika Selatan diperkirakan akan naikkan suku bunga acuannya, apalagi dengan mulai dilakukannya tapering off. Untuk Indonesia semester I-2014 kita perkirakan BI rate akan naik lagi 50 bps,” terangnya.


Dengan naiknya BI rate sebesar 50 bps, lanjutnya, dapat mempersempit defisit transaksi berjalan yang akan menurun dari tahun 2013 yang diprediksikan sebesar 32 miliar dolar AS menjadi 27 miliar dolar AS pada tahun 2014. Mengecilnya defisit transaksi berjalan, menurutnya, tidak dapat diharapkan dari perbaikan ekspor. Seperti diketahui, 60 persen dari ekspor merupakan barang komoditas, dimana pada 12-18 bulan ke depan harga komoditas belum terlihat akan mengalami kenaikan. “Kalau misalnya ekspor tidak bisa didongkrak naik untuk menciutkan transaksi berjalan, otomatis yang harus diturunkan adalah impornya, caranya bagaimana menurunkan pertumbuhan ekonomi, suka atau tidak dengan pengetatan kebijakan moneter,” urainya.


Di sisi lain, tambah Fauzi, dengan membaiknya defisit transaksi berjalan, akan mengakibatkan nilai tukar rupiah mengalami penguatan ke level Rp11.500 per dolar AS pada akhir tahun 2014. “Walaupun di semester I-2014 ini rupiah masih akan melemah ke level Rp12.500 per dolar AS,” pungkasnya.(ans)