Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Pentingnya Hilirisasi Produk Sawit

Jakarta, 27/01/2016 Kemenkeu - Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro berharap industri sawit dapat menjadi salah satu penyokong kemajuan ekonomi Indonesia ke depannya. Salah satu jawabannya adalah dengan mendorong hilirisasi sawit atau melakukan pengolahan atas produk sawit secara lebih lanjut. “Kalau industri sawit ingin membantu memajukan ekonomi Indonesia, maka jawabannya adalah ke hilir. Mengolah lebih lanjut,” jelas Menkeu dihadapan para peserta yang bergerak di bidang usaha sawit, saat Pertemuan Nasional Sawit tahun 2016 di Aula Dhanapala, Jakarta pada Rabu (27/01).

Minyak sawit atau juga dikenal sebagai Crude Palm Oil (CPO), memiliki berbagai jenis turunan yang dapat dikembangkan, dalam hal ini menurut Menkeu, adalah terkait bidang pangan dan energi. Terkait pangan, sawit dikenal memiliki turunan sebagai minyak goreng. “Bapak ibu perlu memberikan suplai pada produsen dalam negeri. Kita ingin menciptakan industri barang yang basisnya sawit,” katanya.

Sementara itu terkait energi, sawit saat ini tengah diarahkan untuk mendukung biofuel, agar dapat memenuhi kebutuhan energi dalam negeri yang sangat besar. “Jumlah penduduk yang besar, kita juga akan butuh energi yang luar biasa besar. Artinya dengan mengembangkan sawit untuk kebutuhan domsetik saja itu sudah luar biasa besar potensi demand-nya,” tegas Menkeu.

Untuk tujuan inilah pemerintah mendorong hilirisasi pada industri sawit, yang mana diharapkan dapat bermuara juga sebagai sokongan untuk perekonomian Indonesia ke depannya. “Inilah pentingnya mendorong hilirisasi industri sawit. Karena hilirisasi ini tidak hanya untuk industri ini sendiri, tapi juga untuk perkeonomian Indonesia secara umum. Itu juga akan membantu perekonomian kita jadi maju,” kata Menkeu.

Apapun latar belakangnya ingin hidup di Indonesia yang jadi negara maju. Syaratnya adalah industry nilai tambahnya harus ada. Itu dimulai dari apa yang kita punya yaitu minyak sawit. Yang bisa dikembangkan jadi berbagai macam produk.

Minyak sawit ini, menurut ahli, keuntungan yang bisa dikembangkan macem2. Saat ini minyak sawit bisa punya turunan, jadi minyak goring, bersaing jadi minyak2 lainnya untuk terkait food. Di sisi lain yang nanti akan jadi tugas dpdb sawit adalah energy. Saat kita memiliki maslah energy , maka sawit itu bisa jadi jawaban sebagai biofuel. Bertanya kepada diri sendiri, adakah tumbuhan lain yang bisa berpengaruh ke food dan energy pada saat yang sama. Di brazil ada tebu, karena mereka bisa campur tebu dengan methanol. Tapi tebu mereka juga btuh untuk gula. Di as, ada jagung tapi itu untuk energinya belom terlalu berhasil. Jadi artinya brazil punya tebu, as punya jagung kita punya sawit. Untukjumlah pendduk yang besar, kita juga akan butuh energy domestic yang besar. Artinya dengan mengembangkan sawit untuk kebutuh pangand an engeri domsetik saja itu sudah bluar biasa besar potensi demandnya. Jadi artinya saya ingin meberikan motivasi untuk melihat sawit dalam scope yang lebih luas. Dalam rangka makro. Suatu bangsa akan stabil akan survive kalo kebutuhan pangan dan energinya cukup. Pasti aka nada ribut2 di luar kalo bensin ga cukup. Misalkan, ato orang jadi rebut kalo pangan langka atau mahal. Disinilah industry sawit . dari pangan maupun energy paling tidak bisa disupport dari bapak ibu semua.(as)