Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memberika keynotespeech dalam acara Seminar International on Human Capital as a New Driving Force of Economy di The Anvaya Beach Resort, Bali (01/02)

Perbaikan Gizi Anak, Sebagai Salah Satu Upaya Mengakhiri Kemiskinan

Bali, 05/03/2018 Kemenkeu - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menekankan pentingnya investasi di bidang kesehatan manusia bahkan sejak anak lahir sampai masa awal anak-anak untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya dan mengakhiri kemiskinan. Hal ini disampaikan Menkeu pada Seminar International on Human Capital as a New Driving Force of Economy di The Anvaya Beach Resort, Bali, pada Kamis lalu (01/02).

“Human capital adalah kunci untuk pengurangan kemiskinan dan pemerataan pendapatan. Faktor kesehatan merupakan isu kritikal untuk didiskusikan. Sekitar 400 juta orang di seluruh dunia tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dasar yang memadai. 100 juta orang per tahun jatuh miskin karena masalah terkait kesehatan. Pemerintah perlu memberikan perhatian extra terhadap sektor kesehatan untuk memastikan masyarakat mendapatkan kecukupan nutrisi. (Masalah) Malnutrisi adalah salah satu masalah yang paling serius dihadapi dunia saat ini, namun paling kurang mendapat perhatian. (Padahal) Akibat (malnutrisi) terhadap manusia dan biaya ekonominya sangat besar,” tegas Menkeu.

Bank Dunia memperkirakan jika masalah gizi buruk dapat diatasi maka rata-rata negara akan memiliki 7% PDB lebih besar dibandingkan kondisi saat ini. Namun disayangkan masalah ini masih kurang mendapat perhatian yang memadai.

“Bank Dunia memperkirakan jika stunting (masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama) dapat diatasi diantara para pekerja pada saat ketika mereka masih anak-anak maka rata-rata negara akan memiliki 7% lebih besar PDB per kapita. Itu angka yang besar. Biaya investasi untuk bidang kesehatan tidak seberapa bila dibandingkan besarnya manfaat yang diperoleh, namun 455 juta anak-anak di seluruh dunia masih mengalami masalah stunting, termasuk di Indonesia, kita juga mengalami masalah yang sama,” tambahnya.

Menkeu menyampaikan bahwa riset selama 20 tahun di Jamaica menunjukkan bahwa anak-anak miskin yang mendapat asupan nutrisi yang memadai sejak bayi sampai saat awal masa-anak-anak akan memperoleh upah 25% lebih tinggi dari pada anak-anak yang tidak memperoleh asupan gizi yang memadai.

“Jadi investasi di awal-awal tahun (masa anak-anak) adalah satu dari beberapa solusi untuk negara untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan meningkatkan produktifitas. Bukti dari study selama 20 tahun terhadap anak-anak di Jamaica yang dilakukan oleh penerima Nobel, James Heckman, Paul Getler dan lainnya menunjukkan bahwa anak-anak miskin yang memperoleh intervensi (pemberian gizi yang memadai) pada saat mereka masih bayi dan saat awal masa anak-anak memperoleh upah sampai 25% lebih besar ketika mereka dewasa (dibandingkan mereka yang tidak mendapat intervensi tersebut). (angka) tersebut sebanding dengan anak-anak yang dibesarkan di kalangan keluarga sejahtera,” jelas Menkeu mencontohkan pentingnya pemberian nutrisi sejak bayi bagi pengembangan manusia di masa depan.

“Jadi intervensi (Pemerintah) khususnya pada anak-anak dari keluarga miskin sejak mereka masih bayi merupakan hal yang krusial untuk mengakhiri lingkaran setan kemiskinan,” pungkasnya. (btr/ind/rsa)