Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Perekonomian Global Tahun 2014 Diprediksi Membaik

Jakarta, 23/05/2014 MoF (Fiscal) News - Perkembangan perekonomian global tahun 2014 diperkirakan tumbuh lebih baik, meskipun mempunyai downside risk (risiko negatif). Menurut Peneliti Madya pada Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Yoopi Abimanyu, hal tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mulai mendekati 3 persen.


Selain itu, perbaikan kondisi perekonomian global juga didorong oleh berakhirnya perseteruan politik AS atas anggaran negara tersebut dinilai mampu mulai mendorong normalisasi kebijakan. Di sisi lain, pengangguran dan sektor industri Eropa masih belum pulih dengan signifikan, meskipun beberapa negara mulai dapat menekan defisit anggarannya.


Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Rusia diperkirakan akan mengalami perlambatan karena sanksi internasional. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga diperkirakan masih akan mengalami perlambatan pada tahun ini. “Ekonomi global masih menghadapi risiko pelemahan di 2014 walau diperkirakan lebih baik dari 2013,” jelasnya saat mengisi acara Seminar Kebijakan Fiskal 2014 dan Perkembangan Ekonomi Terkini di Hotel Grand Clarion Makassar, Kamis (22/5).


Sementara itu, lanjutnya, dalam update perekonomian Indonesia sejak awal tahun 2014, rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan yang cukup baik di antara negara-negara lain di kawasan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga jauh lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Hal ini didukung oleh beberapa faktor penunjang keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, antara lain jumlah populasi yang besar, sumber daya alam berlimpah, kinerja makro ekonomi yang stabil dan kuat, serta pengelolaan fiskal yang prudent.


Terkait   ekonomi global dan domestik yang terjadi, pemerintah telah melakukan respons kebijakan yang berdampak pada berkurangnya tekanan pada pasar keuangan, penurunan inflasi, kembali surplusnya neraca perdagangan, mengecilnya defisit neraca berjalan, membaiknya pertumbuhan ekonomi lebih baik, dan relatif tingginya Foreign Direct Investment (FDI).(anh)