Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Pertumbuhan Ekonomi Harus Dinikmati Semua Pihak

Jakarta, 11/04/2017 Kemenkeu - Pada tahun 2018, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,4-6,1 persen. Pemerintah mengindikasikan ekonomi akan bertumbuh pada angka 5,6 persen, namun saat ini, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Bappenas, serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan melakukan kajian agar angka yang diproyeksi menjadi kredibel. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menekankan, pemerintah terus optimistis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.


“Ini bukan sekedar angka, tapi angka ini akan jadi basis kita menghitung APBN dan juga untuk memberikan signal bagaimana arah (kebijakan) pemerintah,” katanya dalam dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat (Rakorbangpus) 2017 dan Temu Konsultasi Triwulanan II dalam rangka penyusunan RKP 2017, yang bertema "Memacu Investasi dan Infrastruktur untuk Pertumbuhan dan Pemerataan" di Bappenas pada Selasa (11/04).


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa semakin besar pertumbuhan ekonomi, akan menyebabkan semua komponen pertumbuhan untuk naik lebih tinggi. Ada tiga sisi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu pertama dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, impor; (ii) sisi produksi, pertanian, industri, pertambangan, konstruksi, perdagangan, transportasi, gudang, informasi komunikasi jasa keuangan; dan (iii) sisi spasial, pulau mana harus tumbuh berapa banyak untuk bisa mencapai angka pertumbuhan yang ideal.


Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya ditopang oleh Pulau Jawa saja. Oleh karena itu, pertumbuhan spasial antar pulau sangat penting. “Semua punya kontribusi, kalau ada satu saja mesin mati atau sakit, itu bisa mengurangi daya dorong ekonomi kita,” tegasnya. Investasi menjadi sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Indonesia membutuhkan Rp5.000 triliun, namun hanya mampu dibiayai oleh APBN sekitar Rp429 triliun. Oleh karena itu, yang paling berkesinambungan dalam investasi adalah dari masyarakat dan dunia usaha melalui perbankan.


“Tidak ada tumbuh tinggi, tapi tumbuh yang berkualitas, tumbuh tapi mengurangi kesenjangan, tumbuh tapi mengurangi kemiskinan. Tumbuh itu yang menikmati semua, terutama yang 40% paling bawah (piramida),” harapnya. (ath/as)