Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Plt. Kepala BKF: Persoalan BBM Bersubsidi Harus Dilihat Secara Komprehensif

Jakarta, 15/05/2013 MoF (Fiscal) News – Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang P.S Brodjonegoro menilai, harga jual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang berada pada kisaran Rp4.500 telah menciptakan kebiasan tidak baik dan cenderung membuat masyarakat melupakan generasi mendatang. Hal ini ia sampaikan pada Rabu (15/5).

Selain itu, lanjutnya, efek lain yang ditimbulkan adalah masyarakat tidak berusaha menggunakan energi alternatif. Padahal, faktanya saat ini Indonesia bukan lagi produsen minyak, dan BBM bukanlah sumber daya yang dapat diperbaharui. “Dengan Rp4.500 kita lupa premium ini non-renewable energy. Seakan supply-nya melimpah, akan ada terus.  Itu menciptakan kebiasaan jelek. Kita nggak peduli sama anak cucu kita. Kita kira nanti akan nemulah pengganti bensin,” jelasnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa produksi minyak nasional sudah jauh menurun. Hal ini menjadi masalah pelik ketika pada saat yang sama konsumsi BBM justru semakin meningkat. “Yang suka dilupakan, kita pernah produksi sampai 1,5 juta barel per hari. Bahkan, masuk anggota OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). Sekarang sudah tinggal separuhnya, namun konsumsinya dua kali lipat dari zaman kita produksinya 1,5 juta. Ini yang harus disadari,” tegasnya. 

Oleh karena itu, pihaknya berharap agar dalam persoalan terkait subsidi BBM ini dapat dilihat secara lebih komprehensif, bukan sekedar utak atik anggaran. “Itu yang ingin kita angkat, supaya APBN-P (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2013) diskusinya tidak akuntansi. Bukan sekedar anggaran kurang Rp20 triliun, lalu dicarikan anggaran lain. Kita inginnya diskusi komprehensif,” jelasnya.(nic)