Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Presiden Ajak Pengusaha Belanda Investasi di Indonesia

Jakarta, 25/04/2016 Kemenkeu - Dalam kunjungannya ke Belanda, Presiden Joko Widodo mengundang para pengusaha Belanda untuk berinvestasi di Indonesia. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Belanda di Grand Hotel Amrath Kurhaus, Den Haag pada Jumat (22/4).

Dalam forum tersebut, Presiden mengungkapkan bahwa di tengah goncangan kondisi ekonomi global yang melanda dunia, Indonesia menunjukkan ketahanannya melalui pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Bahkan, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,03 persen pada triwulan IV-2015.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut, menurutnya, dapat dicapai karena Indonesia memiliki dua mesin pertumbuhan, yaitu pembangunan infrastruktur dan investasi. Terkait investasi, Presiden mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia terus melakukan perbaikan yang bertujuan untuk mempersingkat proses perizinan dan meningkatkan kemudahan berusaha/berinvestasi.

Ia mengungkapkan, berdasarkan rilis Asian Development Bank (ADB), minat untuk berinvestasi di Indonesia saat ini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah. Terlebih, saat ini banyak perusahaan yang merelokasi pabriknya dari Tiongkok ke negara-negara di Asia Tenggara, sehubungan dengan berlangsungnya transisi di Negara Tirai Bambu tersebut. “Tentu saja Indonesia juga akan mendapatkan porsi yang cukup, terutama karena Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara,” katanya sebagaimana dikutip dari laman Sekretariat Kabinet.

Forum bisnis ini ditutup dengan penandatanganan empat kesepakatan bisnis senilai 606 juta dolar Amerika Serikat. Keempat kesepakatan tersebut yaitu kesepakatan pembangunan pabrik pembuatan solar panel di Surabaya; kesepakatan pengembangan industri benih kentang unggulan untuk meningkatkan produksi dan suplai kentang dalam negeri, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kentang Indonesia; kesepakatan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah dan turbin pembangkit listrik arus di Larantuka, Nusa Tenggara Timur; serta kesepakatan pengembangan sumber daya manusia di bidang kemaritiman.(nv)